Inspirasi Tiada Henti dari Keluarga Nabi Ibrahim As

Merayakan Hari Raya Idul Adha tentu tidak bisa terlepas dari merenungi dan meresapi asbabun nuzul dibalik peringatan hari besar tersebut. Adalah Nabi Ibrahim, seorang Rosul dan Nabi yang diutus Alloh untuk menyelamatkan umat dari penguasa dzalim,penguasa kafir, penguasa yang merupakan thogut. Nabi Ibrahim memiliki perjalanan hidup yang luar biasa dari usia belia hingga di akhir hayat beliau. Kisah tersebut dikisahkan oleh Alloh di dalam Al Qur’anul Karim dan nama Nabi Ibrahim disebut berkali-kali dalam Al Qur’an. Adalah Nabi Ibrahim muda,seorang pemuda yang berani bahkan terhadap raja,penguasa yang dzalim. Berani meluruskan dan menentang ayah tercinta demi agama tauhid yang agung. Namun,yang sangat menawan adalah meskipun menentang ayahnya karena sang ayah menyembah berhala,Nabi Ibrahim muda menyampaikannya dengan halus, dengan lemah lembut layaknya akhlak seorang anak kepada kedua orang tuanya.
Selain itu, Nabi Ibrahim muda juga telah memiliki mujizat luar biasa yakni tidak terbakar atau gosong sedikitpun ketika dibakar hidup-hidup oleh raja dzalim,Namrud. Tentu,mukjizat luar biasa ini tidak akan didapat tanpa kedekatan,ketaatan, penyerahan yang luar biasa pada Sang Maha Pencipta,Alloh SWT. Mukjizat seorang muda yang sholeh, seorang muda yang taat dan memiliki kecintaan yang luar biasa kepada Robb-Nya. Demikianlah kisah Nabi Ibrahim sejak muda, penuh hikmah dan pembelajaran yang sarat makna dan sumber inspirasi tiada batas kepada segenap kaum muslimin dan muslimat.
Hingga, tibalah hari bersejarah yang oleh Alloh SWT diabadikan dalam pengorbanan suci di Hari Raya Idul Adha. Nabi Ibrahim dan sang istri, Siti Hajar bertahun-tahun menikah, belum dikarunia seorang putra penyejuk hati, penghormonis suasana rumah dan penghilang lelah di kala tanggung jawab semakin bertambah bahkan hingga Nabi Ibrahim beranjak tua. Tibalah kabar gembira melalui makhluk Alloh yang paling taat,malaikat yang datang mengabarkan bahwa beliau akan memiliki seorang anak yang sholeh dan taat pada Robb-Nya. Kebahagian tidak terkira menghinggapi Nabi Ibrahim dan sang istri. Demikianlah kebahagiaan itu menghinggapi keluarga tersebut hingga lahir seorang putra tercinta yang diberi nama Ismail. Ismail tumbuh menjadi seorang remaja yang sholeh, menawan akhlak dan perilakunya.
Tibalah hari dimana kebahagian tersebut hendak diuji oleh Alloh dimana Nabi Ibrahim inzdiperintahkan oleh Alloh untuk menyembelih sang putra tercinta melalui mimpi. Berat terasa oleh Nabi Ibrahim perintah tersebut, apalagi sang putra sangat dicintainya dan ditunggunya bertahun-tahun lamanya. Namun, kecintaan kepada sang putra mengalahkan kecintaan beliau terhadap Alloh SWT, begitu juga dengan sang putra yang ikhlas dan menyakini bahwa perintah tersebut pastilah perintah dan ketentuan terbaik Alloh untuk mereka. Hingga Alloh menunjukkan kuasanya kepada kedua hamba yang luar biasa ini dimana Alloh mengganti tubuh sang putra yang siap disembelih dengan seekor kambing (Allohu Akbar!!!). Dari peristiwa luar biasa tersebut, muncullah Hari Raya Idul Adha, Hari Raya Kurban dimana umat muslim diperintahkan untuk mengeluarkan sebagian harta yang dicintainya dengan berkurban, meyembelih rasa kecintaan terhadap harta dan menghadirkan ketaatan dan kecintaan terhadap Alloh di atas segalanya.
Di balik laki-laki yang luar biasa, ada perempuan yang luar biasa. Begitulah kata sebuah pepatah. Begitu juga dengan kehidupan keluarga Nabi Ibrahim yang luar biasa, di sana berdiri seorang perempuan luar biasa, yang tak lain adalah istri Nabi Ibrahim yakni Siti Hajar. Ibunda Hajar adalah sosok muslimah yang kuat,tidak mudah menyerah dan yang pasti taat kpd Robb nya. Beliau tidak banyak bertanya kepada sang suami ketika jawaban atas pertanyaan akan kemana suaminya adalah bahwa sang suami akan melaksanakan perintah Alloh (ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Alloh untuk menuju suatu tempat dan meninggalkan putra yang sangat mereka cintai, Nabi Ismail kecil). Ibunda Hajar percaya dan yakin bahwa apa yang diperintahkan Alloh kepada suami dan keluarganya adalah pasti yang terbaik. Ibunda Hajar manjaga putranya yang masih bayi dalam kekeringan dan kelaparan seorang diri,dengan keyakinan bahwa Alloh Pasti Akan Menjaga mereka. Beliau lari ke sana ke mari untuk mencari air demi putra tercinta,sambil terus berdo’a bahwa Alloh pasti akan memberikannya. Meski pada akhirnya air yang dicari ada di tempat semula,beliau tidak mengeluh dan tidak berkata:”Tau begini,aku tidak perlu lari ke sana kemari”.
Bahkan atas kehendak Alloh,hasil perjuangan Ibunda Hajar mencari air bagi putranya,adalah sumber mata air abadi yng tak habis sampai sekarang meski telah diambil oleh jutaan umat muslim dari berbagai negara setiap tahunnya. Subhanalloh…kisah Nabi Ibrahim,Ibunda Hajar dan Nabi Ismail adalah sumber inspirasi&teladan yang abadi dalam pengorbanan mulia di hari Idul Adha. Terimakasih dan sholawat kepada Nabi Ibrahim atas keteladannya dan kepada Rosululloh SAW,karena atas perjuangan Baginda Rosululoh kisah ini sampai kepada kita hari ini. Allohumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad, Wa’ala Ali Sayyidina Muhammad, Allohhuma Sholli ‘Ala Sayyidina Ibrahim Wa’ala Ali Sayyidina Ibrahim.
Diantara kisah hidup Nabi Ibrahim dan keluarganya yang sarat makna. Hal-hal yang dapat kita ambil dan amalkan adalah :
– Selalu berbaik sangka (huznudzon) kepada Alloh dalam setiap ketentuan yang digariskan terjadi dalam hidup kita. Selain membuat hati menjadi lapang, ikhlas dan ringan, hal ini akan menjadikan semakin kita dekat dengan Alloh.
– Melaksanakan perintah Alloh dengan sungguh-sungguh meski harus mengorbankan sesuatu yang sangat kita cintai. Hal ini terimplikasi dalam bentuk berkorban hewan di setiap Hari Raya Idul Adha, atau berkorban yang lain seperti bersedekah dan berzakat di sepanjang tahun di luar Hari Raya Idul Adha.
– Takut dan taat hanya kepada Alloh, meskipun dihadapkan pada orang terhormat di dunia ini dan bahkan orang yang sangat kita cintai,yakni tidak menaati perintah orang tua yang bertentangan dengan perintah Alloh sebagaimana Alloh firmankan dalam kitab Nya bahwa kita dilarang menaati kedua orang tua dalam hal-hal yang bertentangan dengan agama atau dalam hal-hal yang tidak kita ketahui dasar/dalilnya
– Tetap mencintai,menyangi, mendo’akan dan bersikap lemah lembut kepada kedua orang tua bagaimanapun keadaan mereka.
– Untuk para perempuan yang sudah dan akan menjadi seoarang istri, harus selalu mendukung suami dalam melaksanakan perintah Alloh, percaya bahwa ketentuan Alloh adalah yang terbaik, berjuang untuk kebaikan keluarga sebaik yang kita bisa.

This entry was posted in Kisah Manusia-Manusia Terpilih. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s