Dieng, the God’s Abode

Pengen share sedikit tentang dataran tinggi Dieng yang baru saja saya kunjungi dua hari yang lalu. Trip ke Dieng kali ini adalah trip pertama kali tanpa mengenal seluruh peserta trip satu2 (hanya 2 dari 40-50 peserta trip yang saya kenal), trip pertama kali dengan EO nya adalah travel dan trip naik gunung pertama kali.

Well, kunjungan ke dataran tinggi Dieng benar-benar mengubah persepsi saya tentang Dieng 180 derajat. Selama ini dataran Dieng dalam benak saya adalah wisata alam pegunungan yang adem dan benar-benar alami. Setelah mengunjunginya, kesan tersebut tidak hilang sih, cuma selain wisata alai, dataran tinggi Dieng juga menyimpan banyak cerita sejarah yang misterius yang berkaitan dengan cerita-cerita pewayangan.

Ini dia beberapa objek wisata yang kami kunjungi di dataran tinggi Dieng:
1. Mata Air Tuk Bimo Lukar
Dataran tinggi Dieng konon merupakan kompleks kerajaan Kalinggapura,yakni kerajaan Hindu tertua di Indonesia sebelum Mataram Hindu dimana kerajaan ini dipimpin oleh Ratu Sima. Ingat nggak pernah belajar tentang ini pas SD/SMP dulu?. Nah mata air ini konon katanya merupakan pintu masuk ke kompleks dataran tinggi Dieng. Pengunjung harus “minta izin” mengunjungi kompleks Dieng ke penunggu setempat (yang dipercaya masyarakat setempat) dengan mengunjungi mata air tersebut pertama kali dan menyentuh air dari pancuran di mata air tersebut meski sedikit. Konon katanya pula, air dari pancuran di mata air ini bisa membuat orang awet muda. Honesty, saya nggak percaya dengan yang beginian Cuma untuk menghargai guide nya saya nyentuh aja itu air. Mata air ini juga dipercaya merupakan sumber mata air untuk sungai Serayu yang dibuat oleh Bima, salah satu tokoh pewayangan.

Image

2. Kompleks Candi Arjuno
Candi ini letaknya tidak terlalu jauh dari mata air Tuk Bimo Lukar, berjarak sekitar 500meter. Kompleks candi ini meskipun tidak terlalu besar tetapi menawarkan pemandangan yang aduhaiナsangaaat sangaat indah. Jalan setapak (muat untuk dua orang jalan bersisian) menuju kompleks candi ini sangat mempesona, tertata rapi, dipenuhi pohon cemara perdu disekelilingnya serta dikelilingi bukit-bukit dan gunung yang sangat indah. Ditambah dengan udara adem, sejuk dan kabut pegunungan. Aaahh..romantis deh pokoknya. Kata-kata saya tidak bisa menggambarkannya dengan baik. Anda harus mengunjungi tempat ini sendiri.

Di kompleks candi ini, terdapat 4 candi utama yakni candi Arjuno yang terletak paling depan dengan ujungnya yang khas candi Hindu, candi Bima, candi Srikandhi dan candi Sembrada, ada 2 candi-candi kecil di sisi kanan dan kiri tetapi saya lupa namanya. Candi ini adalah candi Hindu yang dibangun pada masa Dinasti Senjaya. Menurut pengelola setempat awalnya ada sekitar 18 situs candi di kompleks Dieng, namun saat ini hanya tinggal 8 situs.

Image

3. Museum Dieng Kailasa
Museum ini letaknya masih satu kompleks dengan candi Arjuno, letaknya agak naik sedikit. Di museum ini kita bisa melihat peninggalan-peninggalan kebudayaan Hindu seperti patung dewa-dewa, kepercayaan warga setempat, mata pencaharian warga setempat serta hal-hal lain yang terkait dengan kepercayaan warga setempat. Di museum ini juga terdapat bioskop mini yang menyajikan sejarah singkat tentang Dieng, tentang kepercayaan masyarakat setempat.

Mengenai kepercayaan masyarakat setempat, ada satu yang unik yakni tentang anak berambut gimbal atau gembel. Konon, katanya anak yang memiliki rambut ini sejak lahir merupakan titisan dewa (bisa jadi pertanda baik maupun pertanda buruk). Untuk menghilangkan gimbal ini, rambut sang anak harus dipotong dengan mengundang kerabat2 dan tetangga terdekat untuk mengadakan kenduri dan do’a bersama dan si anak boleh meminta apa saja yang diinginkannya kepada orang tuanya. Setelah itu, rambut gimbal si anak dilarung ke sungai Serayu untuk menghilangkan sial/keburukan.

 Image

4. Puncak Sikunir (The Golden Sunrise)
Pukul 02.30 dini hari kami dibangunkan oleh panitia untuk bersiap-siap mendaki puncak Sikunir guna melihat sunrise/matahari terbit. Untuk mencapai puncak Sikunir dari homestay kami harus naik bis travel lebih dahulu sampai ke pintu gerbang Sembungan Village, setelah itu kita masih harus naik kendaraan semacam mobil pick up, atau jeep untuk mencapai kaki Sikunir. Ini juga salah satu yang seru, menjelang subuh naik pick up rame-rame dengan pemandangan elok langit bertabur bintang gemintang dan bulan purnama sedikit gompal.

Tinggi puncak Sikunir kira-kira 500m. Butuh perjuangan memang untuk mencapai puncak Sikunir apalagi di pagi-pagi buta dan pengalaman pertama saya. Namun, setelah mencapai puncak, anda akan disuguhi pemandangan alam yang luar biasa, gunung Sindoro berdiri dengan kokohnya diantara gunung-gunung kecil yang lain yang saya tidak tahu namanya apa. Matahari bersiap muncul disela-selanya. Sayangnya, pagi itu mendung, jadi matahari muncul tertutup mendung dan tidak kelihatan bulatnya. Namun hal ini tidak mengurangi kekaguman saya pada keelokan alam Dieng. Puncak Sikunir memiliki dua puncak dan sering disebut double sunrise. Jarak antar puncak sekitar 100m. Turun dari puncak sekitar pukul 07.00 pagi, begitu turun dijamu dengan pemandangan lembah-lembah hijau berembun, dan di kaki puncak ada danau alami yang menghijau diantara tanah-tanah warga yang ditanami kentang. Luar biasa!!! :’)

Image

5. Kawah Sikidang
Kawah Sikidang adalah kolam lumpur panas yang mengeluarkan bau belerang yang sangat menyengat, oleh karenanya kita diharuskan memakai masker hidung untuk memasuki kawah Sikidang. Letaknya tidak terlalu jauh dari puncak Sikunir. Ada cadas-cadas tinggi yang mengelilingi kawah Sikidang serta bukit-bukit hijau rapi dan cantik berjejeran.Image

6. Danau Warna
Danau ini dikenal juga dengan sebutan danau tiga warna karena jika dilihat dari ketinggian memperlihatkan 3 warna yang berbeda akibat pembiasan cahaya matahari. Danau ini tak kalah eloknya dengan objek wisata yang lain,letaknya yang dikelilingi gunung nan cantik serta langit biru yang menawan. Sedikit naik dari danau ini ada beberapa gua yang dikeramatkan oleh pemeluk agama Hindu dan pengunjung dilarang mengambil foto di situ.

 

Image

7. Dieng Plateu Theater
Dieng Plateu Theater adalah semacam bioskop kecil yang menampilkan sejarah Dieng lebih lengkap daripada versi yang di kawah Kailasa. Di film singkat ini juga kita disadarkan potensi luar biasa yang dimiliki Dieng baik potensi wisata maupun potensi bencana, saya menyebutnya blessing in disguise. Ada banyak sekali keindahan alam yang ditawarkan Dieng, bahkan yang saya kunjungi dan saya sebutkan di atas baru sedikit dari sekian banyak objek wisata Dieng. Di film berdurasi sekitar 30 menit itu juga disebutkan Dieng sebagai tanah para dewa (the God’s abode). Potensi gas alam yang disimpan Dieng juga sangat besar dan saat ini sudah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga geothermal.

Mengenai kuliner, ada beberapa kuliner unik yang ada di Dieng salah satunya adalah carica semacam pepaya tetapi lebih imut-imut dan biasanya dijadikan oleh-oleh. Carica yang dijadikan oleh-oleh sudah dikemas dalam bentuk kemasan seperti manisan dengan rasa manis-manis segar. Selain carica, yang khas Dieng adalah mie ongklok semacam mie ayam namun dengan rasa sedikit agak manis, dicampur dengan sayur kol dan daun bawang, ditemani sambal cabe ijo serta ditaruh sate ayam di atasnya. Yummy..apalagi kemarin kita makannya pas masih panas dan hujan turun sangat deras.

Selamat mencoba dan menjelajah bumi Indonesia yang indah mempesona. Semoga ketemu di perjalanan selanjutnya

Depok, 01042013

 

This entry was posted in Travelling. Bookmark the permalink.

2 Responses to Dieng, the God’s Abode

  1. Isi blognya sangat inspiratif, saya tertarik untuk mendengar kisah perjalanan anda yang lainnya.

  2. emmadhitya says:

    Yang paling ditunggu2 buat dibaca itu tentang sunrise dan kulinernya 😛 hehe
    Daaaaaaan, bikin kabita kalo kata orang sunda haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s