Pengamen Kecil

Ketika keluar mencari makan malam tadi, saya bertemu dengan seorang pengamen kecil yang bernama Ardi, nama lengkapnya Ardiansyah.  Anaknya lucu, khas anak kecil. Saya ngobrol banyak sama dia. Dia sekolah kelas 5 SD di sekolah yang  digagas oleh Departemen Pengabdian Masyarakat, Badan Eksekutif Mahasiswa, FEUI. Ardi mengamen dari pukul 17.00 sampai 23.00. Kemudian dia pulang ke rumahnya di Citayam,Bogor naik angkot. Bayangkan umur baru sekitar11 tahun dan sudah mencari nafkah hingga larut malam. Depok-Citayam menurut saya jaraknya lumayan, apalagi untuk anak sekecil itu.

Ardi sudah tidak punya ibu, ayahnya sakit paru-paru  di rumah,kakak nya kelas1 SMP ikut membantu pekerjaan ayahnya dan menjaga adik-adiknya yang berjumlah dua di rumah. Banyak mungkin yang tidak mempercayai kisah-kisah atau cerita-cerita anak seperti ini. Menganggap mereka berbohong untuk alasan uang dan untuk mendapat pengasihan dari orang lain. Mungkin itu tidak sepenuhnya salah, dan sejujurnya dulu saya juga pernah beranggapan serupa. Namun, terlepas mereka berbohong atau tidak, alangkah baiknya jika kita tetap membantu mereka sesuai dengan kadar kemampuan kita. Saya pikir, jika kita terus menerus curiga, tanpa keinginan untuk membuktikan kebenarannya dan memberikan sesuatu yang lebih baik, hal ini akan menggerus kepedulian kita kepada sesama, kepada orang-orang di sekitar kita. Selain itu, dengan mendengarkan cerita mereka, bukan kah kita juga akan belajar tentang kesyukuran, tentang hal-hal kecil yang mungkin selama ini tidak berarti bagi kita tetapi sangat berarti besar bagi mereka? Mungkin memang alangkah lebih baik kalau kita membuat suatu komunitas yang mewadahi anak-anak seperti ini, namun banyak pasti karena alasan kesibukan hal itu belum terwujud. Kalau kita berpikir dan selalu mengira mereka ini bohong, saya yakin kita tidak akan tergerak untuk membantu.

Dan saya juga sangat berharap mereka tidak berbohong. Yang pasti anak-anak itu unik, banyak pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari anak-anak. Seperti yang dikatakan Ayah Edy,seorang praktisi pendidikan anak bahwa “ Mereka yang disebut buta huruf di abad- 21 bukanlah orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mereka yang tidak bisa membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan dii dalam diri anak atau murid mereka melalui perilakunya sehari-hari”.

Wallohu’alam

 

 

Depok,05 Mei 2013. 

This entry was posted in Daily Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s