Perbedaan Akad Ijarah dan Murabahah dalam Pembiayaan KPR di Perbankan Syariah

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis tentang ekonomi dan keuangan syariah yang sebenarnya adalah bidang yang sangat saya minati. Hal ini dikarenakan pekerjaan saya sehari-hari bukannya tidak berhubungan dengan ekonomi dan keuangan syariah, tapi agak jauh hubungannya dan tidak memiliki cukup waktu untuk menulis tentang hal ini karena untuk dapat menulis tentang ekonomi dan keuangan syariah diperlukan waktu yang cukup dan data-data yang mendukung, menurut saya.

Belakangan ini saya penasaran dengan perbedaan antara akad Ijarah dan akad Murabahah dalam pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di perbankan syariah. Dulu, saya pernah magang di suatu Bank Syariah, namun saya lupa tentang perbedaan skema akad keduanya. Yang saya ingat bahwa akad Ijarah yang dipakai di pembiayaan KPR bank syariah adalah Ijarah Muntahia Bi Tamlik (IMBT) dimana skemanya adalah kepemilikan menurun dari sisi bank atas rumah sehingga pada akhir akad rumah tersebut 100% dimiliki oleh nasabah. Nah..ternyata ada lagi akad yang lain dalam skema pembiayaan KPR di bank syariah yakni murabahah, setelah membaca-baca ke sana kemari, saya menemukan perbedaan antara kedua skema tersebut. Secara sekilas, perbedaannya adalah sebagai berikut:

Musyarakah Wal Ijarah
1. Prinsip kerjasama dan sewa beli/leasing
2. Uang muka 0 %
3. Margin bagi hasil dievaluasi setiap 2 tahun

Murabahah

1. Prinsip Jual-beli
2. Uang muka min.30%
3. Margin bagi hasil flat/tetap selama akad

Pada skema akad Musyarakah Wal Ijarah, bank mengajak calon nasabah KPR untuk membeli KPR dengan proporsi tertentu antara bank dan calon nasabah (musyarakah), selanjutnya nasabah mengangsur jumlah pinjaman dengan bagi hasil sebagaimana leasing dengan opsi kepemilikan secara otomatis pada saat seluruh kewajiban angsuran lunas. Down Payment (DP) untuk skema ini juga Rp 0.

Sedangkan pada skema Murabahah (jual beli), calon nasabah diwajibkan menyerahkan uang muka/DP sebesar 30% (tergantung bank nya masing-masing), harga rumah yang dibeli oleh nasabah adalah harga pokok rumah+margin keuntungan bagi bank yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, kemudian nasabah mencicil harga rumah tersebut dengan cicil tetap/flat selama akad.

Jakarta, 04062013

This entry was posted in My Academic Writing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s