If it meant to be, it will be

Actually, this is about the past moment, but there was a very valuable thing I’ll remember maybe in my lifetime. Ya, ini masih mengenai tertolaknya saya di salah satu institusi yang sangat saya inginkan untuk menjadi bagian darinya. Institusi yang dimana sudah hampir 2 tahun saya mengabdi kepadanya.

Belakangan, a couple weeks after the announcement, Saya menghadap pimpinan untuk meminta kesediaan beliau memberikan menuliskan surat rekomendasi buat Saya. Singkat cerita, ibunya masih heran mengapa Saya tidak lolos PCPM BI, lalu demi menjawab rasa penasaran beliau – yang juga  merupakan rasa penasaran Saya- ibu pimpinan saya menelpon rekan sejawat beliau, sekaligus pejabat yang bertugas mewawancarai Saya di tahap akhir, yakni interview user. Jawaban dari seberang sana adalah bahwa sebenarnya Saya ini lolos wawancara, lolos PCPM dan termasuk yang direkomendasikan ,

Deg..itulah perasaan Saya kala itu,jujur Saya masih berharap meskipun kecil, tetapi harapan tersebut buru-buru Saya kubur dalam-dalam karena biar bagaimanapun Saya harus move on, harus melanjutkan rencana masa depan yang lain. Dan benar saja, baru saja selesai Saya mengubur harapan itu dalam-dalam,ibu di seberang sana mengatakan mungkin di cut sama SDM nya karena kebijakan tahun ini, komposisi SDM yang lolos PCPM lebih banyak laki-laki daripada perempuan.

Di sisi lain,ada kelegaan di hati Saya bahwa sebenarnya Saya ini layak untuk lolos PCPM meskipun sangat Saya sadari ikhtiar dan do’a Saya belum maksimal. Kebijakan DSDM alias faktor eksternal di luar kendali Saya dimana melalui perantaraan hal tersebut Alloh Yang Maha Kuasa Menunjukkan Kekuasaannya.

“Jadi sebenarnya kamu ketrima neng, hanya saja karena kebijakan ini mungkin kamu urutannya kegeser sama yang cowok-cowok sehingga kamu jadi masuk urutan bawah, Tuhan pasti punya rencana lain yang lebih bagus”, begitu pesan ibu pimpinan kepada Saya. And I said, Yes ma’am, I believe HE never leave me, HE accompany me dan tidak menyia-nyiakan setiap usaha hambaNya.

Ibu pimpinan dan beberapa atasan juga mengatakan bahwa baru tahun ini PCPM memperhitungkan komposisi perempuan dan laki-laki di penerimaannya, tahun-tahun sebelumnya tidak ada kebijakan seperti ini. Dan memang benar,dari 213 yang lolos, perempuannya hanya 69 dan sisanya semua laki-laki.

Sejenak Saya merenung, betapa Maha Kuasa dan Maha Besarnya Alloh, meskipun beberapa atasan Saya mengatakan probabilitas Saya untuk lolos 80% karena sebelumnya sudah bekerja di institusi ini. Namun, Alloh Menunjukkan Kuasanya, bahwa seberapapun besarnya probabilitas, mau diperjuangkan seperti apapun, jika belum menjadi takdir Saya, belum menjadi hak saya, maka probabilitas itu menjadi nol besar.

Saya sangat bersyukur bisa belajar dari semua ini, banyak introspeksi diri karena mungkin sebelumnya Saya terlalu pede kalau saya akan lolos. Dan saya juga yakin, juga percaya bahwa Alloh punya rencana yang lain, punya rencana yang jauh lebih indah atas semua ini. Ketika ikhtiar dan do’a-do’a terbaik sudah berusaha saya lakukan dengan tidak mengabaikan evaluasi atas setiap energi yang keluar, bagaimanapun hasilnya, sepenuhnya itu hak Alloh, wewenang Alloh Yang Memiliki Arsy yang Agung.

Dan Saya percaya, ketika kita mau belajar dari setiap hal yang digariskan terjadi dalam hidup kita, semoga bisa menjadikan kita lebih dewasa dalam menyikapi hidup ini.

 

Jakarta, 10 Feb 2014

Senja hari di cubical kantor yang masih ramai

This entry was posted in Daily Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s