19 Hari Bersamamu

Terkadang saya itu tidak sadar bahwa saya sudah menikah, mungkin karena saya sehari-harinya beraktivitas di luar rumah sedangkan suami sebaliknya, dia lebih banyak mengerjakan pekerjaan bisnisnya di rumah, jadi kami hanya bertemu dan bercengkrama di malam hari. Itu satu hal, hal lainnya adalah interaksi kami yang seperti teman biasa bahkan sahabat yang setiap saat bisa menjadi tempat bagi saya untuk menumpahkan semua kekesalan dan omelan-omelan saya (maaf ya kak :p)

Menikah adalah soal toleransi, soal kompromi dan soal kepekaan serta sensitifitas untuk saling mengerti satu sama lain meski tak terucap lewat kata. Semua itu pasti butuh proses, bahkan sepanjang pernikahan berlangsung dan tidak mungkin hanya dalam 2 minggu usia pernikahan, kami bisa melakukannya. Maka belajar dan terus belajar adalah sebuah keharusan.

Apalagi jika kita sudah menyadari sebelum pernikahan bahwa dunia kita berbeda, suami saya adalah pebisnis dengan waktu kerja yang sangat flexible, bahkan aktivitas pertemuan dengan rekan bisnisnya banyak dilakukan di malam hari. Sedangkan saya adalah pekerja kantoran dengan jam kerja yang sangat tight, aktivitas saya banyak di siang hari dan di luar rumah. Maka, di sini sangat dituntut untuk saling memahami satu sama lain, saling mendukung dan membicarakan tentang waktu untuk bersama tanpa mengorbankan cita-cita masing-masing. Maka sungguh sangat benar ucapan bahwa “Menikah bukan untuk berpikir sama, tapi berpikir bersama”. Maka seharusnya urusan dan cita-cita aku, urusan dan cita-cita kamu sudah tergantikan pelan-pelan dengan urusan dan cita-cita kita berdua.

Urusan dan cita-cita kita berdua ini sungguh tidak semudah mengejamkan mata ketika rasa kantuk mendera, tetapi butuh ketenangan dan kedinginan pikiran masing-masing untuk membicarakannya. Karena ini akan juga harus membicarakan visi misi hidup kita ketika masih single, dan visi misi hidup ketika setelah menikah. Seharusnya perasaan bahwa urusan dan cita-cita salah satu pihak dikorbankan oleh urusan dan cita-cita pihak lain sebagai pasutri tidak muncul, karena saling mendukung, saling membahagiakan, dan saling menghebatkan menjadi suatu keharusan ketika ikatan suci akad nikah itu diucapkan.Semua proses itu akan terus berjalan baik dengan merangkak atau berlari cepat dalam usia pernikahan.
Semoga Alloh kuatkan genggaman tangan kita dalam mengarungi bahtera pernikahan ini sayang, karena “kapal yang tangguh adalah yang sudah teruji dalam gelombang badai yang menggunung”. Semoga Alloh jadikan pernikahan kita abadi hingga ke surgaNya sehingga kita akan berkumpul di salah satu tamannya bersama dengan malaikat-malaikat kecil kita nanti 🙂

Ana Ukhibuhifillaah :*
19 hari bersamamu,

Jakarta, 04092014

This entry was posted in Bersamamu. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s