Persepsi dan Ekspektasi

Salah satu sumber kebahagiaan seorang manusia, saya pribadi terutama menurut saya adalah tidak banyak berekpektasi (expect less) dan tidak banyak ber-persepsi terutama mengenai perilaku orang lain kepada kita. Ekspektasi berlebihan akan merusak hati dan jiwa kita, terutama jika jiwa sempit, hati tidak lapang. Berbagai prasangka buruk akan muncul dan lebih-lebih lagi berprasangka buruk pada Tuhan..Naudzubillaah

Begitu juga dengan persepsi, terkadang manusia sering berpikir atau berkata harus nya tuh begini, harusnya tuh begitu. Kita mengharapkan seseorang atau sesuatu berperilaku atau terjadi sesuai dengan kemauan dan persepsi kita, dan ternyata ketika itu tidak terjadi kita jadi menyalahkan orangg lain, jadi menyalahkan keadaan. Saya bisa menulis seperti ini karena secara jujur, saya sendiri sudah pernah mengalaminya..pada akhirnya hati menjadi tidak tenang, tidak legowo kata kata orang Jawa.

Sekarang saya sedang belajar untuk me-manage ekspektasi saya terhadap sesuatu. Set my expectations to the lowest. Ketika ternyata realita melebihi ekspektasi, itu adalah bonus, itu adalah rezeki, rezeki anak sholehah (aamiin..hehe).

Hal sama dengan persepsi, persepsi tentang masa depan yang begini begitu akan menimbulkan ketakutan-ketakutan yang merusak kebahagiaan hidup. Hidup adalah anugerah, anugerah saat indah dimana kita bisa melakukan banyak hal positif sebelum jatah hidup kita habis. Jadi mari sama-sama belajar menjauhi persepsi-persepsi negatif, agar kebahagiaan hidup kita jadi maksimal.

Menyediakan hati, pikiran dan jiwa yang lapang menurut saya adalah salah satu kunci kebahagiaan hidup. Lapang hati untuk menerima kritik dan masukan (adanya kritik membuktikan bahwa persepsi diri sendiri selalu benar adalah salah), lapang dalam memaafkan dan meminta maaf atas kesalahan, lapang dalam menjalani hidup yang ada di depan mata. Jiwa lapang akan tegar dan kokoh terhadap semua benturan yang mungkin datang, jiwa yang lapang juga akan menjadi ruang yang lebar untuk mental sekuat baja.

Hati yang kosong terhadap persepsi apapun akan mampu menampung pembelajaran dalam hidup. Seperti halnya gelas kosong dan gelas terisi penuh dalam belajar suatu ilmu. Kita sebelum belajar kita sudah memenuhi otak kita dengan berbagai persepsi bahwa ilmu yang akan dipelajari nanti akan seperti ini, seperti itu..maka ilmu baru itupun akan mental (tidak akan masuk ke otak dan hati kita) karena penerimaan kita akan ilmu sudah penuh oleh persepsi-persepsi yang kita bentuk sendiri.

Terlalu ber-persepsi juga akan menimbulkan banyak miss komunikasi dan terkadang perselisihan antara kita dengan orang lain. Misalnya dua orang yang sedang dalam perjalanan, A dan B anggap lah. Si A melakukan sesuatu yang salah dan dia tidak tahu kalau apa yang dilakukannya salah, si B menganggap si A tahu bahwa yang dilakukannya itu salah, dan B bilang bahwa si A adalah orang yang tidak ber-budi pekerti. Padahal tidak begitu, A memang tidak tahu dan dia butuh diberi tahu, sedangkan si B karena sudah terlanjur ber-persepsi, maka jadilah sebuah konflik di sini.

Jadi intinya, perbanyak dan perlancar komunikasi tanpa ber-persepsi dahulu sebelumnya, biar jelas dan menenangkan diri kita dan orang lain.

Terkait dengan persepsi-persepsi masa depan yang lebih sering menakutkan daripada menyenangkan, maka kuncinya adalah nikmati masa kini dengan sebaik-baiknya, because present is a gift. Karena ketakutan penderitaan akan masa depan lebih mengerikan daripada penderitaan itu sendiri. The fear of the suffering in the future is more horrible than suffer it self.

Perjuangan masa kini, dan ikhlaskan masa depan, set your expectation to the lowest.

“Jika saya mengikhlaskan diri saya, saya menjadi yang saya inginkan. Jika saya mengikhlaskan yang saya punya, saya akan menerima apa yang saya butuhkan” –  Tao Te Ching

Jakarta, 24102014

baca juga tulisan saya berikut

This entry was posted in Daily Life and tagged , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to Persepsi dan Ekspektasi

  1. Setuju dengan post ini!

    Ketika ekspektasi kita tinggi, persepsi kita akan negatif ketika realitas yang ada lebih rendah dari ekspektasi kita meskipun sedikit. Sebaliknya, persepsi kita akan positif ketika realitas berada di atas ekspektasi kita walau ekspektasi yang kita tetapkan rendah.

    Rumus: Persepsi = Realitas – Ekspektasi
    Ok yang ini terlalu ilmiah (??)

    Belajar menjadi lebih bersyukur dan selalu berpikir positif (Y) 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s