Berbicara yang Baik atau Diam

Dalam rangkaian proses belajar classical di OJK, pada Jum’at 17 April kemarin, kami kelas D mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai Presentation Skill dan Effective Communication dari Duta Bangsa. Materi yang disampaikan sangat menarik terutama mengenai Effective Communication hingga membuat saya banyak berpikir dan merenung bahwa ternyata manusia itu sangat kompleks, bahkan untuk kebutuhan dasar manusia sekalipun yakni dalam hal komunikasi.

Sebagai kebutuhan dasar manusia, komunikasi memegang peranan yang sangat penting untuk harmonisasi sebuah hubungan sesama manusia. Menjadi tonggak keberlangsungan harmoni di antara manusia dalam level inti tatanan masyarakat pun yakni level keluarga. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 9 dari 10 pernikahan gagal karena tidak adanya komunikasi yang efektif.

Ada beberapa hal yang menjadi penghalang terjadinya komunikasi efektif. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Asumsi
Musuh utama dalam komunikasi efektif adalah asumsi. Seringkali komunikasi gagal terjadi dengan baik karena komunikator sudah membentuk asumsi terlebih dahulu dalam pikirannya, asumsi bahwa lawan bicara sudah mengetahui maksud pembicaraannya. Di sisi lain, lawan bicara juga sudah membentuk asumsi sendiri bahwa yang dimaksud oleh komunikator adalah seperti ini. Sehingga dalam asumsi terjadi ketidaksamaan pemahaman atas informasi yang dimaksud oleh komunikator dengan yang diterima oleh lawan bicara.

2. Tidak Bertanya
Pertanyaan dalam komunikasi adalah bahasa cinta. Bertanya dalam komunikasi adalah sangat penting guna menyamakan pemahaman antara komunikator dengan lawan bicara. Namun, bertanya tidak asal bertanya, pertanyaan harus menggunakan pilihan kata yang sopan, cerdas yakni bertanya yang mengkonfirmasi sehingga komunikator kita berpikir balik dengan pertanyaan cerdas kita.

3. Hearing vs Listening
Communication is what is heard not what is said. Mungkin inilah pernyataan yang paling mendobrak pengertian hampir semua orang selama ini, bahwa komunakasi adalah apa yang kita dengar, bukan apa yang kita ucapkan. Komunikasi adalah bagaimana kita mendengar dengan baik apa yang diucapkan oleh lawan bicara kita.
Mendengar dalam bahasa Inggris ada dua kata yakni hearing (mendengar) dan listening (mendengarkan). Ada perbedaan makna mendasar antara keduanya walaupun hanya berbeda akhiran –kan pada arti kedua kata tersebut.
> Hearing (mendengar) :
Menerima bunyi, secara fisik, bersifat pasif dan alami
> Listening (mendengarkan):
Telinga, kontak mata, ikut merasakan, fokus dan ada umpan balik

Dalam hearing kita hanya melibatkan panca indera telinga kita dalam menerima informasi, kita tidak menaruh perhatian sepenuhnya. Sedangkan dalam listening, kita tidak hanya melibatkan telinga kita tetapi juga hati,perasaan dan fokus kita ikut terlibat dalam komunikasi. Kita menjadi ber- empathy pada apa yang disampaikan oleh komunikator/ lawan bicara kita.

Keterlibatan hati, perasaaan serta fokus dalam komunikasi sangat penting baik dalam posisi kita sebagai pembicara atau sebagai pendengar. Dalam posisi kita sebagai pembicara alangkah sangat baiknya jika kita berbicara tidak hanya dengan mulut kita, tetapi dengan segenap hati dan perasaan kita. Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa untuk sebuah komunikasi yang berhasil, ada tiga komponen yang membentuknnya yakni apa yang kita sampaikan (what is said), nada bicara, intonasi dan tips, serta bahasa tubuh (body language). Menariknya apa yang kita sampaikan (what is said) hanya menyumbang 7% dari keberhasilan komunikasi kita, kedua, nada bicara, intonasi dan tips, menyumbang 38% dari keberhasilan komunikasi kita, dan yang mengejutkan bahasa tubuh (body language) menyumbang 55% dari keberhasilan komunikasi kita. Hal ini sesuai dengan kata-kata bijak yang mengatakan bahwa “Orang tidak melihat apa yang kita sampaikan tetapi bagaimana kita menyampaikannya”

Hal ini pulalah yang membuat saya berpikir mungkin inilah mengapa kita disunnahkan untuk berbicara yang baik atau diam jika memang tidak bisa berbicara yang baik. Karena berbicara dengan pilihan kata yang bagus (what is said), nada dan intonasi yang enak serta bahasa tubuh yang ramah tidak mudah dan tidak bisa kita lakukan setiap saat, hal ini merupakan skill yang harus terus menerus kita latih. Dan mungkin selama kita belum bisa mempraktikkannya, alangkah baiknya kita diam daripada kita berbicara ngelantur dan menyakiti orang lain karena nada atau intonasi kita atau karena bahasa tubuh kita yang tidak mengenakkan.

4. Penampilan
Ada quote yang menarik soal penampilan yang mendukung komunikasi efektif kita yakni: “Jangan anda keluar rumah sebelum anda jatuh cinta pada diri anda sendiri”. Kita akan dapat menyampaikan dengan baik pesan atau informasi kepada orang lain apabila kita memiliki kepercayaan diri yang kuat terhadap diri sendiri.

Demikian uneg-uneg dari materi yang saya peroleh kemarin. Semoga bermanfa’at 🙂

Depok, 1842015 pukul 16:30

This entry was posted in Learning Outside and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s