Sampai dimana kebahagiaan kita?

Beberapa hari yg lalu waktu berangkat kerja saya melihat seorang bapak yg berjualan entah siomay atau bakso yang diletakkan di boncengan belakang sepedanya. Entah kenapa saya selalu terenyuh melihat seorang bapak yg bekerja keras utk keluarganya, ada yg menarik gerobak, mengayuh sepeda berjualan ala kadarnya, menarik angkot dgn sabarnya, berjualan kopi keliling dsb. Saya berdoa dalam hati semoga bapak2 ini dan keluarga nya diberikan kesehatan dan kebahagiaan, diberkahi dan dilancarkannya rezekinya, diberikan keikhlasan dan kesyukuran, pun utk diri dan keluarga saya. Mengapa saya selalu menyelipkan “diberikan kebahagiaan” dalam doa saya, bukan “diberikan rezeki yg banyak”? Karena menurut saya kebahagiaan adlh tujuan universal yg ingin dicapai oleh setiap manusia apapun pekerjaan dan profesinya. Orang bekerja keras dr pagi sampai malam, mengabaikan rasa lelah, rasa lapar, rasa ngantuk dan dorongan utk menyerah lainnya adlh agar uang hasil pekerjaannya dapat membahagiakan dia dan orang2 yg dicintainya.

Bahagia adlh kunci kehidupan. Orang yg bahagia akan bersemangat dgn hidupnya, semangat dgn apa yg dia lakukan. Bahagia bisa darimana saja. Ada yg kebahagiaannya mungkin dr banyaknya uang yg dia miliki, dr orang2 baik yg ada di sekelilingnya, dr pekerjaan yg dia lakukan, dr rumah dan kendaraan mewah yg dia miliki, dsb. Sumber kebahagiaan ini tdk sama pada setiap orang saya rasa. Orang2 yg kita anggap kurang beruntung krn pekerjaannya rendah di mata kita, belum tentu dia lebih tdk bahagia dr pada kita. Belum tentu dia akan bahagia jika kita memberinya uang yang banyak atau rumah yang mewah atau baju yg mahal. Krn siapa tau dgn uang banyak, rumah mewah, baju mahal yg kita berikan malah mendatangkan mudharat untuknya, mungkin dia menjadi lalai dan tdk mau bekerja lagi, mungkin dia jdi asik dgn hidupnya dan lupa dgn keluarganya yg menunggunya pulang ke rumah kontrakannya, yg mendampingi nya di kala susah. Siapa tau yg dia butuhkan malah adalah teman yg senantiasa mengingatkannya dlm kebaikan, keluarga yg bersyukur atas berapapun rezeki yg diterimanya hari ini, atau keikhlasan dlm menjalani hidup. Siapa tau dia sudah sangat bahagia dgn hidupnya, sangat bersyukur akan pekerjaannya dan itulah sumber kebahagiaannya.

Sebaliknya dgn orang kaya yg kita lihat punya rumah mewah, kendaraan mahal, bisa jadi dia tdk bahagia dgn semua kemewahan yg dimilikinya, mungkin dia tdk punya teman dekat yg mengingatkannya tempat dia bercerita, kehangatan keluarga dsb. Intinya kebahagiaan setiap orang sudah diukur oleh Tuhan kadar dan porsinya, sumber dan perantaranya.

Saya jadi teringat film “In time” yg dibintangi oleh aktor Justin Timberlake dan aktris cantik Amanda Seyfried, ada sebuah adegan di dalam film tersebut yg menurut saya sangat menohok utk direnungi (meskipun keseluruhan film tsb sangat layak direnungi menurut saya). Adegan Tsb adalah ketika Will Salas (Justin T) menjadi buronan karena dituduh telah mencuri waktu (dia mendapatkan waktu sktr 100 abad) dr orang terkaya di daerah tsb, kemudian dia memberikan waktu 10 tahun kepada temannya dimana temannya tsb adalah seorang yg kurang beruntung, tinggal di daerah kumuh dgn pekerjaan serabutan (dlm film ini waktu adlh uang, segala sisi kehidupan manusia di hargai dgn waktu, bukan dengan uang spt di zaman skrg). Kemudian keesokan harinya ketika waktu yang dimiliki Will Salas sangat sempit dan ingin mengambil lagi sedikit waktu dr temannya tsb, temannya telah meninggal krn waktunya dia habiskan utk membeli minuman keras, berfoya2 dan lalai akan hidupnya.

Dari sini dapat kita ambil pelajaran bahwa kebahagiaan manusia tdk selalu dan tdk melulu krn kelimpahan materi. Ketika materi berlimpah tetapi mental dan perilaku penerimanya tdk siap, maka materi tersebut malah akan mendatangkan musibah dan kesedihan alih2 kebahagiaan. Demikian juga ketika kita ingin menolong orang lain, mungkin tdk langsung kita tolong dgn materi, tetapi alangkah lebih baik lagi ketika kita mencari tahu terlebih dahulu sumber masalah/ sumber ketidakbahagiaan orang yg ingin kita tolong.

Setiap dr kita sudah memiliki kadar kebahagiaannya masing2, sudah diukur oleh Tuhan Yang Maha Adil, kita nya (saya) saja yang seringkali berburuk sangka kepadaNya sehingga kita lupa mensyukuri sumber kebahagiaan di sekitar kita. Tugas kita adlh melalukan yg terbaik yg bisa kita lakukan, berbaik sangka kepadaNya bahwa kebahagiaan kita sudah ditentukan kadarnya oleh Nya.

Jakarta, 24 Juli 2016 22:31 WIB

This entry was posted in Daily Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s