Alhamdulillaah Bisa Sekolah

Pada tanggal 20 April kemarin saya nonton film Kartini bersama teman-teman kantor atas prakarsa Ikatan Pegawai. Selama nonton filmya, saya kok nangis ya 😭😭😭. Hal ini lantaran, sebagai seorang perempuan Jawa, saya jadi membayangkan seandainya saya hidup di sekitar 2 abad yg lalu di tanah Jawa. R.A Kartini dan saudari2 nya saja yang seorang anak perempuan Bupati diperlakukan seperti itu (tidak boleh sekolah, dikurung di dalam rumah, meskipun somehow ini juga baik untuk seorang perempuan JAwa), apalah saya yang rakyat jelata ini, bukan keturunan Sosroningkrat, Hadiningkrat, atau Ningkrat2 lainnya.
Mungkin saya tengah memakai kemben, duduk bersimpuh di pinggir jalan nyembah2 bupati atau bahkan lurah yang lewat, harus merelakan suami menikah lagi hanya karena saya bukan Raden Ayu (bukan turunan bangsawan) atau lebih sedihnya lagi jadi gundik meneer Belanda yang tak punya hak apa2 seperti tokoh “Nyai” dalam tetraloginya  Pramoedya.
Ya Alloh sungguh tidak bisa membayangkan 😭. Bersyukur sekali ditakdirkan hidup di zaman modern ini, bisa sekolah, bisa bekerja, bisa berdaya dan insyaAlloh memberdayakan. Terima kasih Ibu Kartini, dan para pahlawan Indonesia..sungguh perjuangan mu tak akan pernah dapat terbayar oleh apapun. Hanya Tuhan lah yang Kuasa membalasnya 🙏🏻😭😭.
Di satu sisi, menurut saya sangat kontraproduktif pernyataan tentang siapa yang paling berhak diperingati hari lahirnya diantaranya tokoh-tokoh pahlawan nasional. Saya juga tidak terlalu paham sejarah nya kenapa tanggal lahir R.A KArtini yang diperingati di Indonesia ini, bukan tokoh-tokoh Pahlawan perempuan yang lain. Namun meskipun begitu bukan berarti segala jerih payah dan perjuangan tokoh-tokoh pahlawan perempuan selain KArtini menjadi ternafikan. Seperti Dewi Sartika, Kemala  Hayati, Cut Nyak Dien, dll, meskipun hari lahirnya tidak diperingati, saya yakin kita akan tetap bisa meneladani beliau-beliau tersebut asal kita mau mencari tahu dan mau membaca. Karena sungguh yang kita butuhkan saat ini mungkin bukan siapa yang paling pantas hari lahirnya diperingati diantara pahlawan perempuan tersebut, tetapi apa kontribusi nyata kita untuk meneruskan perjuangan mereka.

Just my two cent 🙂

 

Jakarta, 1 Mei 2017

This entry was posted in Daily Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s