Book Review : Sunnah Sedirham Surga

image1– Judul: Sunnah Sedirham Surga

– Penulis : Ust. Salim A.Fillah

– Review :

“Hikayat keteladanan para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai daripada kebanyakan persoalan fiqih, karena kisah-kisah tersebut berisi adab dan akhlaq mereka untuk diteladani” -Imam Abu Hanifah-

Imam Syafi’I berkata:

Aku mencintai orang-orang sholeh meskipun aku bukan termasuk di antara mereka. Semoga  bersama mereka aku bisa mendapatkan syafa’at kelak. Aku membenci para pelaku maksiat meskipun aku tak berbeda dengan mereka. Aku membenci orang yang membuang-buang usianya dalam kesia-siaan walaupun aku sendiri adalah orang yang banyak menyia-nyiakan usia.

Betapa banyak kisah-kisah para ulama akan adab dan akhlaq, sebab dengan ilmunya mereka telah menjadi insan-insan yang paling takut kepada Alloh. Mereka telah menjadikan ilmu sebagai tepungnya, hingga tersaji roti yang lembut, lezat dan indah untuk menjadi asupan ummat sepanjang zaman. Mereka telah mempermaklumkan bahwa hampir-hampir adab adalah sepertiga agama. Kisah-kisah keteladanan ini sungguh sangat harus kita hidupkan kembali di tengah-tengah zaman dimana kita semakin terbiasa menjadi penyimak siaran pengetahuan dari benda-benda mati beraliran listrik dan berpenangkap sinyal, tanpa berkesempatan merasakan pergaulan dan khidmah ta’zhim secara langsung kepada para ulama. Maka hasil mengaji kita adalah pen-tahbis-an sudut pandang yang kita peroleh sebagai tolok ukur kebenaran, sehingga jika ada yang masih serupa namun tak sama pun kita hukumi berbeda lagi menyimpang.

Adab dan akhlaq inilah yang membuat KH.Idham Cholid tidak berqunut ketika tahu ada Buya Hamka menjadi makmumnya dalam kapal yang mengangkut mereka berhaji, sementara Buya Hamka justru berqunut karena tahu KH.Idham Cholid menjadi makmumnya. Adab dan akhlaq pula yang membuat Mahaguru dan penasihat tulus pada abad ke 3 H, Hatim Al-Asham yanag berpura-pura “tuli” karena ada seorang wanita paruh baya yang datang ke majelisnya kemudian wanita tersebut tanpa sengaja membuang angin dengan suara keras. Beliau berpura-pura tuli agar wanita tersebut tidak malu dan kepura-puraan ini beliau pertahankan selama 15 tahun sampai wanita tersebut wafat. Hal ini beliau lakukan untuk menjaga aib dan kehormatan wanita tersebut. Dan masih banyak lagi kisah-kisah para ulama salaf, ulama klasik dan ulama nusantara yang mencerminkan keagungan adab dan akhlaq mereka serta kecintaan dan pemuliaan yang amat sangat terhadap ilmu.

Maka sangat patut bagi kita untuk merenungkan petuah Imam Syafi’i bahwa apabila kita tidak bisa menyamai mereka, setidaknya kita mencintai mereka, agar kecintaan tersebut menuntut kita untuk mendapatkan syafa’at, sebagiamana petuah beliau:

Betapa jauh, sangat jauhnya adab dan akhlaq kita dari para salafus sholeh dan para ulama tersebut, padahal ilmu kita pun mungkin tak ada seujung kuku dari mereka. Buku ini sangat recommended menurut saya, bagus banget. Semua kisahnya syarat hikmah dan membuat kita menunduk dan mengatakan “bagaimana dengan saya?”. Ia bagaikan seteguk air dingin di tengah terik matahari yang melelahkan dan menghauskan. Dibaca berulang-ulang pun tidak akan membosankan.

This entry was posted in Book Review and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s