Resensi Buku: Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

image1Judul Buku: Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Penulis: Salim A.Fillah

Penerbit: Pro-U Media

Tahun Terbit: 2019

Tebal Buku: 631 halaman

Mungkin mayoritas dari kita sudah mendengar kisah tentang Perang Diponegoro sejak masih duduk di bangku SD. Namun, mungkin juga banyak dari kita yang menerima kisah tentang Sang Pangeran dalam versi penjajah kolonial sehingga kita tidak tahu kisah sebenanya yang penuh heroisme dan sarat inspirasi. Bersyukur, telah hadir buku Sang Pangeran dan Janisari Terakhir karya Ust. Salim A Fillah yang berusaha meluruskan kisah Pangeran Diponegoro dan perangnya yang sangat fenomenal pada 1825-1830.

Jika selama ini banyak dari kita sering mendengar perang Diponegoro terjadi karena persoalan tanah keraton Yogyakarta yang diserobot oleh penjajah kolonial Belanda, maka sebenarnya persoalan yang menyebabkan perang itu meletus sangat jauh lebih besar dan tujuan yang jauh lebih. Penjajah kolonial Belanda telah begitu merusak tatanan kehidupan keraton yang damai, penuh tata krama, unggah ungguh dan relegiusitas yang tinggi. Kehidupan bebas dari para penjajah telah merasuki para bangsawan keraton mulai dari pergaulan bebas, minuman keras dan hal-hal tak pantas lainnya. Ditambah lagi ketamakan mereka juga meracuni para bangsawan keraton hingga banyak dari mereka sedikit demi sedikit memperkaya diri sndiri dengan berbagai pajak yang mencekik rakyat.

Kondisi inilah yang menyebabkan Sang Pangeran resah dan lebih memilih untuk menyingkir dari kehidupan keraton dan tinggal di Puri Tegalrejo, tempat beliau dibesarkan dan dididik oleh sang nenek buyut, Ratu Ageng Tegalrejo, istri Raja Hamengkubuwono I. Meskipun telah menyingkir dari kehidupan keraton, rupanya para penjajah kolonial dan beberapa bangsawan keraton tetap terusik dengan keberadaan beliau sehingga mereka bersekongkol untuk terus memancing kemarahan beliau hingga mereka memiliki alasan untuk “menyingkirkan” beliau selama-lamanya. Maka, pada 20 Juli 1825 Belanda mulai menyerang Puri Tegalrejo yang damai dan asri yang menjadi penanda meletusnya Perang Diponegoro, perang terbesar dalam sejarah penjajahan kolonial Belanda yang menyebabkan Belanda defisit anggaran dan merugi sebesar 25juta golden.

Buku ini menyuguhkan kepada kita keteguhan tekad dan kekokohan niat dalam perjuangan membebaskan diri dan rakyat dari kedzaliman penjajahan. Alur cerita dan tata bahasa sungguh menghipnotis seakan kita kembali ke ratusan tahun yang lalu dan ikut menyaksikan langsung perjuangan Pangeran Diponegoro dan kawan-kawannya dalam medan gerilya yang berat pada periode tahun 1825-1830. Ditambah lagi kisah romantika zaman dulu yang lugu dan penuh rasa malu serta guyonan para abdi setia sang pangeran benar-benar sukses membuat kita begitu betah membaca novel ini hingga tidak terasa kita sudah berada di beberapa halaman menuju halaman terakhir.

Buku ini adalah buku sejarah yang dibalut novel dengan alur cerita dan bahasa yang sangat mengesankan yang menurut saya harus dibaca oleh seluruh masyarakat Indonesia. Karena buku ini kembali menyadarkan kita bahwa Indonesia yang sangat kita cintai ini tidak hanya kaya akan sumber daya alamnya, tetapi juga kaya akan tokoh-tokoh perjuangan nasional yang sangat inspiratif dan layak kita ketahui sejarah hidup dan perjuangannya. Selain itu, informasi penting lainnya dari buku ini adalah bahwa Perang Diponegoro memiliki peranan penting dalam kemerdekaan Indonesia 120 tahun kemudian. Bagaimana bisa begitu? Silakan baca bukunya dan temukan jawabannya di halaman 586 🙂

#semuabacasangpangeran #sangpangerandanjanissaryterakhir

Home, 26 Januari 2020/1 Jumadilakhir 1441 H

This entry was posted in Book Review and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s