Book Review : “Muhmmad: Generasi Penggema Hujan”

IMG_7437

1. Judul : Muhammad

2. Penulis: Tasaro GK

3. Resensi:
Buku ke empat Dari novel biografi ini menceritakan pencarian Kashva, penasihat Kaisar Persia yang berjuluk pemindai surga telah mencapai akhirnya. Perjalanan mencari kebenaran berdasarkan kitab Zardust di ajaran Zoroaster yang diyakininya mengantarkannya menjelajah berbagai negeri. Berawal dari Persia, perbatasan India, Pegunungan Himalaya, Tibet, Suriah, Madinah, Mesir Hingga kembali lagi ke Madinah. Meskipun dia tidak berhasil menemui Nabi yang dijanjikan, sang penggegam hujan (karena beliau telah wafat) namun melalui perjalanan berpuluh tahun yang penuh penderitaan dia menemukan ajaran Sang Nabi diyakini dan dipeluk erat oleh pengimannya yang dengan kecerdasan dan pemikirannya yang tajam mendorongnya untuk juga memeluk erat ajaran tersebut.

Kebahagiaan Kashva tidak hanya karena adanya iman baru di dadanya, juga karena belahan hati yang sangat dicintainya, perempuan Persia yang cantik, cerdas, berani, tangguh, Astu telah bertemu dengannya setelah berpuluh-puluh tahun terpisah. Terpisah karena Yim, ayah Astu harus menyelamatkan Kashva dengan berbagai cara karena Kaisar Kosrou ingin membunuhnya tersebab Kashva telah berani mengingatkan sang kaisar tentang kedatangan Nabi yang dijanjikan dalam kitab Zardust. Terpisah karena perang, dan karena sedikit sakit yang dialami Kashva. Iman Islami dan keberadaan Astu di sampingnya telah membayar semua penderitaan yang harus dialami Kashva sejak dia harus meninggalkan negeri Persia yang dicintainya.

Di saat yang bersamaan, Khalifah Khulafaur Rasyidin yang terakhir (Khalifah Ali bin Abi Thalib) menghadapi banyak ujian di masa kepemimpinannya, setelah sebelumnya Khalifah Utsman Wafat di tangan pemberontak. Banyak pemberontakan terjadi mulai dari golongan orang-orang yang tidak mau membaiatnya,  golongan orang-orang yang membencinya/membangkangnya (khawarij), golongan yang terlalu mengidolakannya (syi’ah) hingga sang Khalifah, sang Gerbang ilmu syahid di tangan pemberontak seperti Khalifah sebelumnya.

Buku ini membawa kita menjelajah ke negeri-negeri yang jauh, membawa kita pada masa-masa perjuangan Rosululloh SAW dan orang-orang sholeh yang penuh keteledanan. Penulis sangat mahir dalam merangkai sejarah dalam alur cerita.

Disclaimer:
Untuk sejarah Rosululloh SAW dan Khulafaur Rasyidin lebih baik juga membaca dari referensi yang lain ya. Jangan hanya buku ini 🙂


Jakarta, 7 Mei 2017/10 Sya’ban 1438 H

Posted in Book Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Book Review: “The Last Secret of The Temple”

IMG_9228

  1. Judul : The Last Secret of The Temple
  2. Penulis : Paul Sussman
  3. Resensi :

Cerita diawali dengan kejatuhan Kuil Yerusalem ke tangan Romawi yang merupakan penyembah berhala pada abad ke ke-70 M. Di tengah kecamuk perang, dengan nyawa terancam, seorang pendeta Yahudi tengah menyiapkan seorang anak laki-laki dalam sebuah misi penyelamatan simbol suci  yang harus dilindungi. Simbol suci sekaligus simbol kekuatan bangsa Yahudi.

Latar cerita kemudian berlanjut tahun 1944, yaitu periode Perang Dunia II dimana terdapat sekumpulun warga Yahudi yang dengan mata tertutup diperintahkan oleh tentara Jerman untuk menyimpan sesuatu yang amat penting bagi bangsa Yahudi di suatu gua yang gelap. Untuk menghilangkan jejak, setelah sesuatu tersebut berhasil dikubur, tentara Jerman mengakhiri hidup sekumpulan orang Yahudi tersebut.

Cerita kemudian berlatar masa kini. Tokoh utama dalam novel ini adalah Yusuf Khalifa, seorang detektif polisi yang bertugas di kota Luxor Mesir. Pada suatu hari, dia sengaja mengambil cuti untuk mengajak putranya mengunjungi Lembah Para Raja, suatu situs sejarah yang berisi artefak dan peninggalan arkeologis raja-raja Mesir. Sayangnya cutinya harus terganggu karena anak buahnya mendatanginya dan menyampaikan kabar mengejutkan bahwa telah ditemukan jasad seorang laki-laki tua Eropa  di antara puing-puing di sisi lain Lembah Para Raja tersebut. Inspektur Khalifa terpaksa harus meninggalkan putranya untuk aktif kembali menjadi detektif polisi dan menyelidiki kasus tersebut yang ternyata sangat rumit dan membawanya ke sebuah rahasia besar.

Penyelidikan membawa penemuan bahwa jasad laki-laki yang belakangan diketahui namanya adalah Piet Jansen merupakan mantan petinggi Nazi yang berpindah ke Mesir untuk menyelamatkan diri dari perburuan terhadap tentara-tentara Nazi. Kematian Piet ternyata terkait erat dengan kematian seorang wanita Yahudi asal Israel, Hannah Schlegel tiga belas tahun sebelumnya.

Untuk mengungkap kasus tersebut, Inspektur Khalifa yang seorang Muslim terpaksa harus bekerja sama dengan seorang dektektif polisi Yahudi bernama Arieh Ben Roi yang tinggal di Israel. Diantara keduanya terdapat jurang yang sangat lebar dimana Khalifa yang seorang Muslim memiliki pandangan untuk tidak bersekutu dalam bentuk apapun dengan Yahudi karena perbuatan mereka terhadap saudara-saudaranya di Palestina. Sementara Ben Roi juga sangat antipati terhadap muslim karena tunangannya telah terbunuh oleh sebuah bom mobil yang menurutnya dilakukan oleh Muslim Palestina. Jurang diantara keduanya harus dijembatani oleh seorang jurnalis cantik Kristen Palestina, Layla Al Madani yang memainkan dua wajah karena dendam kesumat atas masa lalunya.

Di antara mereka bertiga juga terdapat Har-zion seorang ekstermis Yahudi yang dengan segala taktiknya telah berhasil mengkambinghitamkan warga Palestina atas kejahatan-kejahatan yang dilakukannya.

Kebijaksanaan dan keteguhan prinsip Yusuf Khalifa, ketidakdewasaan Ben Roi serta kecerdasan Layla telah berhasil membuat cerita ini sangat hidup dan memukau. Teka-teki sejarah dan galian arkeologis harus mereka pecahkan untuk menguak siapa sebenarnya Piet Jansen dan Hannah Schlegel yang akhirnya menuntun mereka mengungkap rahasia panjang “Menorah Yahudi”, simbol keagamaan Yahudi yang dikubur puluhan tahun silam.

Penulis sangat lihai dalam meramu cerita sehingga begitu membius dengan lika-liku sejarah mengenai Nazi dan bangsa Yahudi. Dia juga secara berani merumuskan ide perdamaian antara Palestina dan Israel yang dikemas dalam pertemuan rahasia antara tokoh Palestina, Israel dan Mesir di sebuah gurun pasir perbatasan Mesir dan Palestina.

Sungguh buku ini sangat recommended terutama bagi para pecinta sejarah dengan narasi yang tidak berat.

Happy reading 🙂

Jakarta, 7Mei2017/10 Sya’ban 1438 H

Posted in Book Review | Leave a comment

Book Review: “Fourth Series of THe Chronicle of Ghazi”

IMG_8117.JPG1. Judul: The Chronicles of Ghazi (Buku ke-4)
2. Penulis: Sayf Muhammad Isa
3 Resensi:
Berbagai ujian dan cobaan datang menimpa Sultan Muhammad Al Fatih (Mehmed) dalam ikhtiar beliau mewujudkan bisyarah Rasulullaah SAW utk menaklukkan Konstantinopel. Ujian dan cobaan ini makin terasa semenjak dilantiknya beliau menjadi Sultan di usia belia menggantikan ayahnya Sultan Murad II yang ingin istirahat di usia senjanya. Banyak pejabat istana dan orang-orang yang dulu dipercaya Ayahnya yang meragukan kepemimpinan beliau hingga pasukan militer pun menolak uuntuj menuruti perintah untuk berperang padahal musuh sdh di depan mata. Di sisi lain, musuh yg sangat menyimpan dendam padanya, Vlad Dracula kian giat mengumpulkan kekuatan hitam untukk membalas dendamnya kepada Sultan Mehmed. Namun semua itu tidak menyurutkan tekad beliau untuk mewujudkan bisyarah Rasulullaah SAW untuk menjadi penakluk Konstantinopel dan menjadi jenderal perang terbaik.

Di tengah-tengah perang batin tersebut Sultan Mehmed terus berikhtiar meningkatkan kapasitas dirinya. Beliau tidak hanya menguasai strategi perang, lihai memainkan pedang juga beliau menghafal Al Qur’an, menguasai 8 bahasa asing dengan sangat fasih serta beliau belajar langsung bagaimana menjadi Sultan dari ayahnya semenjak usia belia. Semua kerja keras ini beliau lakukan karena beliau sadar sepenuhnya bahwa untuk menjadi panglima perang terbaik sesuai janji Rosululloh SAW, beliau harus mengerahkan semua kemampuan baik softskill maupun hardskill.

Melalui buku ke-4 ini kita diajak mengikuti setiap perkembangan dalam usaha penaklukkan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fatih melalui ikhtiarnya yang pantang menyerah serta mengikuti sejarah perkembangan kerjaan-kerjaan di daratan Eropa melalui cerita yang mengalir dan tidak berat.

#resensibuku #yukbacabukuislam #yukbacabuku #resensinovel #resensibukuislami #resensinovelislami #resensipilihan #review #reviewbuku #reviewbukuislami #ghazi #yukbaca #bacanovel #bacabuku

Posted in Book Review | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Book Review : “Menjadi Suami Seperti Nabi”

14913785224161. Judul: Menjadi Suami Seperti Nabi

2. Penulis: Herfi Gulam Faizi, Lc

3. Resensi:

“Kunci pokok segala kebaikan adalah dengan mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Alloh kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi” (Ibnu Qoyyim Al Jauziah)
.
Sebenarnya buku ini lebih cocok dibaca oleh para suami/calon suami, tetapi karena suami saya tipe belajarnya audio jadi saya yang baca terus ditransfer ke beliau😅. Hal ini karena banyak teladan-teladan dan contoh-contoh akhlak Nabi kepada istri beliau. Namun, alhamdulillaahnya buku ini juga tetap cocok utk dibaca oleh para istri/calon istri karena ada kisah-kisah istri-istri Nabi SAW, sahabat dan Khulafaur Rasyidin yang dapat kita contoh dalam berinteraksi dengan suami. .

Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang cendekiawan AS, Yasir Qadhi bahwa tidak ada cinta sejati sebelum pernikahan, maka kisah-kisah dalam buku ini menuntun kita bagaimana pernikahan benar-benar menuntun pada cinta sejati dan berbuah kebahagiaan sejati yang diberkahi dan diridhoi Alloh SWT.
.
#bookreview #resensi #resensibuku #resensinovel #reviewbook #ayobaca #ayobacabuku #bacabuku #bacabukuyuk #bukuislami

Jakarta,03052017

Posted in Book Review | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Book Review “The Fifth Series of The Chronicle of Ghazi”

1489471041952.jpeg

1. Judul: The Chronicle of Ghazi fifth series
2. Penulis: Sayf Muhammad Isa
3. Resensi :
“Kunci keberhasilan adalah kesabaran, berlipat-lipat kesabaran” (Sultan Muhammad Al Fatih, 1453)
– Sultan Muhammad Al Fatih (Mehmed) semakin memantapkan strategi dan mengasah diri utk mewujudkan bisyarah Rosululloh SAW menaklukkan konstantinopel, bukan utk harta kekayakaan karena toh kekaisaran Byzantium sudah jatuh miskin menjelang thn2 1453, bukan pula utk ketenaran melainkan mengharapkan ridho dan pahala dr Alloh SWT sebagaimana yg diucapkan oleh lisan mulia Rosululloh bahwa sebaik2 panglima adalah penakluk Konstantinopel dan sebaik2 pasukan adalah pasukan yg menaklukkan Konstantinopel. Sultan Mehmed percaya bahwa Rosul tidak pernah berbohong dan yakin bahwa penaklukan Konstantinopel telah digariskan, hanya kapan dan siapa yg melakukannya. Sultan Mehmed sadar sangat tdk mudah utk mewujudkan bisyarah tsb, oleh karenanya beliau bekerja keras siang dan malam utk mengasah diri dan pasukannya, menghimpun dukungan penghuni bumi dan langit. Beliau bukan tipe pemimpin yg hanya ahli memerintah, tapi juga ahli di lapangan, turun tangan dlm pekerjaan2 teknis, menguasai strategi perang, menguasai 8 bahasa dgn fasih dan yg paling penting beliau SANGAT MENCINTAI ILMU. Banyak sandungan di masa pemerintahannya apalagi semenjak ayahnya, Sultan Murad wafat. Tetapi sandungan2 tsb tdk pernah menyurutkan cita2 beliau utk menaklukkan Konstantinopel. Berkat segala kerja keras, ketawakalan dan kesabaran tanpa batas serta strategi yg “outstanding” cita2 tsb terwujud.
.
Seri pamungkas dr The Chronicle of Ghazi ini sungguh memberikan banyak pembelajaran dan hikmah tentang kesabaran, berlipat-lipat kesabaran diperlukan untuk mewujudkan cita-cita yang sangat besar. Namun yang membuat saya sedikit kecewa adalah kenapa tidak ada kisah mengenai kontribusi perempuan-perempuan dekat Sultan Mehed seperti ibu atau istrinya (ibu lah setidaknya soalnya waktu menaklukkan Konstantinopel sang Sultan belum menikah, umurnya baru 21th 😭) yang ikut serta membentuk karakter beliau yang sangat kuat. Karena sebagai pembaca perempuan, saya ingin melihat sudut pandang dari perempuan dekat beliau, tapi sayangnya tidak ada dari Buku 1 sampai Buku 5 ini 😦 
Tapi di sisi lain, sepertinya buku ini memang sengaja menampilkan Sultan Muhammad Al Fatih sebagai tokoh sentral sih. Jadi dari kelima seri buku ini memang titik beratnya pada Sultan Mehmed. Berharap suatu saat ada buku khusus mengenai sang ibu dari Sultan Mehmed ini.
Jakarta, 1Mei2017
Posted in Book Review | Leave a comment

Alhamdulillaah Bisa Sekolah

Pada tanggal 20 April kemarin saya nonton film Kartini bersama teman-teman kantor atas prakarsa Ikatan Pegawai. Selama nonton filmya, saya kok nangis ya 😭😭😭. Hal ini lantaran, sebagai seorang perempuan Jawa, saya jadi membayangkan seandainya saya hidup di sekitar 2 abad yg lalu di tanah Jawa. R.A Kartini dan saudari2 nya saja yang seorang anak perempuan Bupati diperlakukan seperti itu (tidak boleh sekolah, dikurung di dalam rumah, meskipun somehow ini juga baik untuk seorang perempuan JAwa), apalah saya yang rakyat jelata ini, bukan keturunan Sosroningkrat, Hadiningkrat, atau Ningkrat2 lainnya.
Mungkin saya tengah memakai kemben, duduk bersimpuh di pinggir jalan nyembah2 bupati atau bahkan lurah yang lewat, harus merelakan suami menikah lagi hanya karena saya bukan Raden Ayu (bukan turunan bangsawan) atau lebih sedihnya lagi jadi gundik meneer Belanda yang tak punya hak apa2 seperti tokoh “Nyai” dalam tetraloginya  Pramoedya.
Ya Alloh sungguh tidak bisa membayangkan 😭. Bersyukur sekali ditakdirkan hidup di zaman modern ini, bisa sekolah, bisa bekerja, bisa berdaya dan insyaAlloh memberdayakan. Terima kasih Ibu Kartini, dan para pahlawan Indonesia..sungguh perjuangan mu tak akan pernah dapat terbayar oleh apapun. Hanya Tuhan lah yang Kuasa membalasnya 🙏🏻😭😭.
Di satu sisi, menurut saya sangat kontraproduktif pernyataan tentang siapa yang paling berhak diperingati hari lahirnya diantaranya tokoh-tokoh pahlawan nasional. Saya juga tidak terlalu paham sejarah nya kenapa tanggal lahir R.A KArtini yang diperingati di Indonesia ini, bukan tokoh-tokoh Pahlawan perempuan yang lain. Namun meskipun begitu bukan berarti segala jerih payah dan perjuangan tokoh-tokoh pahlawan perempuan selain KArtini menjadi ternafikan. Seperti Dewi Sartika, Kemala  Hayati, Cut Nyak Dien, dll, meskipun hari lahirnya tidak diperingati, saya yakin kita akan tetap bisa meneladani beliau-beliau tersebut asal kita mau mencari tahu dan mau membaca. Karena sungguh yang kita butuhkan saat ini mungkin bukan siapa yang paling pantas hari lahirnya diperingati diantara pahlawan perempuan tersebut, tetapi apa kontribusi nyata kita untuk meneruskan perjuangan mereka.

Just my two cent 🙂

 

Jakarta, 1 Mei 2017

Posted in Daily Life | Leave a comment

Rindu Mengurai Kata-Kata

Hari ini tiba-tiba mellow sendiri di meja kerja di tengah keheningan orang-orang yang sedang bekerja. Sebabnya tak lain adalah karena saya melihat sebuah publikasi internasional conference yang mana selanjutnya saya iseng membuat mind map dan googling jurnal-jurnal terkait tema int’l conference tersebut. Rasanya kok rindu sekali mencari jurnal-jurnal di google terutama buka scholar.google, memelototi kata per kata pada judul jurnalnya apakah sesuai dengan keyword yang ingin dicari. Tidak pernah merasakan kerinduan seperti ini untuk menulis paper, rindu menguraikan kata-kata untuk menuntaskan paper tersebut. Pikiran jadi melayang pada masa-masa kuliah dan beberapa saat setelah lulus kuliah yang hobi sekali saya ikutan lomba-lomba penulisan paper. Kalau boleh jujur, meskipun tidak banyak juga paper saya yang lolos pada lomba-lomba tersebut, ada rasa bahagia tersendiri setelah saya merampungkan paper tersebut. Bahagia karena akhirnya saya bisa menuliskan pendapat saya atas sebuah isu pada lomba call for paper yang saya ikuti, bahagia karena saya jadi lebih banyak membaca dan sedikit banyak mengetahui sebuah isu, bahagia karena saya punya karya, meskipun itu tak seberapa.  Oh Tuhan how I miss this moment so bad. T_T

Rindu untuk duduk di bangku kelas dan mendengarkan dosen mengajar, rindu saat-saat duduk termenung di meja belajar memikirkan tugas kuliah, rindu rasa lapar karena mengerjakan tugas kuliah. I miss everything about it. Tentu saja ini bukan saya tidak bersyukur dengan kondisi sekarang, tetapi jika mau mewujudkan semua itu setidaknya saya harus menunggu 2 tahun karena adanya ketentuan dari tempat saya bekerja dimana untuk melanjutkan pendidikan dengan dibiayai kantor ada minimum masa dinas yang harus dipenuhi. Kecuali ingin sekolah dengan biaya sendiri, maka bisa kapan saja. Meskipun mungkin kesempatan tersebut belum hadir pada saya dalam waktu dekat, tetapi saya ingin sekali menyempatkan untuk membuat tulisan-tulisan ilmiah/ paper seperti publikasi yang saya baca tadi pagi. Kalau toh akhirnya tidak dapat berangkat karena tempatnya jauh dan karena satu dan lain hal, saya akan tetap bahagia karena kerinduan saya terobati. Ganbatte for myself!!

 

Jakarta, 10042017

Posted in Daily Life | Leave a comment