Book Review : Changed

changedKenya Sharp adalah seorang gadis yatim piatu yang berasal dari suatu daerah pedesaan Amerika Serikat yaitu Wisconsin. Dia bersama adiknya, William memutuskan untuk merantau ke New York dan melanjutkan pendidikan di sana dengan beasiswa dari New York University. Sembari belajar di NYU dia berkerja free lance untuk mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan sekolah adiknya. Namun ternyata adiknya menderita sakit parah sehingga beasiswa yang dia terima dan penghasilan dari kerjanya tidak mencukupi untuk membiayai pengobatan adiknya yang sangat mahal. Dengan terpaksa dia harus melakukan pekerjaan yang tidak akan pernah dilakukan orang lain dalam kondisi normal. Karena dia tidak mau merepotkan neneknya di Winconsin dan orang terdekatnya yang juga sedang belajar di Manhattan. Suatu ketika pekerjaannya tersebut diketahui oleh seseorang yang ternyata teman satu kampusnya. Dan hal ini membawanya pada persoalan yang cukup rumit.

Jakarta, 18 Dzulhijjah 1438 H/9 September 2017

Advertisements
Posted in Book Review | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Book Review : “Bersamamu di Jalan Dakwah Berliku”

“Membaca adalah cara utk membunuh rasa kagum pada diri sendiri” -Ust Salim A.Fillah-

dakwah dalam ukhuwah
Imam Syafi’i pernah menyampaikan “Kuburu akhlaq dan ilmu dari setiap orang yang dengannya aku bertemu, sebagaimana seorang ibu mencari anaknya semata wayang yang telah hilang”
“Kita lebih berhajat pada sedikit adab, daripada berbanyak pengetahuan”, ujar Imam Abdullah ibn Al Mubarak. Demikianlah di kala lain beliau menyatakan bahwa dirinya memerlukan waktu 30 tahun untuk belajar adab dan 20 tahun untuk belajar ilmu.
Dikisahkan Harun Ibn Abdillah tentang majelis Imam Ahmad yang dihadiri 5000 orang. “Yang membawa kertas dan pena untuk mencatat hadits hanya 500 dari mereka, yang lain memperhatikan seluruh diri dan gerak gerik Imam Ahmad untuk meneladani adab dan menyimak akhlaq” kisahnya.
Inilah buku yang membuat kita cemburu pada adab dan akhlaq orang-orang sholeh yang semakin tinggi ilmunya semakin agung akhlaqnya. Memandang perbedaan sebagaai ilmu baru dan rahmat karena ia melahirkan keluasan, tenggang rasa, serta keberagaman yang bermanfaat bagi kita.
Saya adalah penggemar dan penikmat tulisan-tulisan Ust Salim A. Fillah sejak dulu zaman masih SMA. Termasuk buku ini meskipun dari judulnya nampak berat, tapi tidak, sama sekali tidak berat. Bahasa khas beliau yang santun dan menghanyutkan mengingatkan kita bahwa perbedaan-perbedaan yang ada diantara kita adalah keniscayaan dan akan menghadirkan manfaat apabila kita dapat melihatnya dengan kejernihan ilmu , bukan mengedepankan hawa nafsu.

            Selain itu Ust. Salim A. Fillah juga mengingatkan kita bahwa dalam mengajak pada kebaikan kita harus senantiasa bersabar, karena tidak ada segala sesuatu yang instant apalagi kebaikan. Sabar sepertinya sabarnya Nabi Yusuf a.s yang karena sibling rivalry harus hidup sendiri dan terlunta-lunta jauhd dari orang tua yang sangat mencintainya. Sabar seperti Nabi Muhammad SAW yang menahan diri dan tetap sabar melaksanakan shalat dan ibadah diantara berhala-berhala masyarakat Quraisy. Sabar seperti Nabi Musa yang menghadapi kaum yang besar yang tidak mau bersyukur, tidak mau taat meskipun berbagai mukjizat telah mereka lihat. Iya kita memang jauh sangat jauh dari mereka baik dari kualitas diri apalagi kualitas iman, namun bukan kah kita harus senantiasa berteladan kepada mereka meski dari hal-hal yang kecil dan sederhana.

         Di zaman sekarang di saat orang-orang sangat tergesa-gesa dan memaksakan kehendak dalam mengajak ataupun menanamkan kebaikan, justru di saat itulah orang semakin menjauh dari kebaikan. Bukan kebaikannya yang salah tetapi cara mengajak dan perilaku orang yang mengajaknya. Maka pertimbangan dan prioritas harus benar-benar sangat diperhatikan dalam hal ini, yang mana hal itu hanya dapat kita lakukan melalui ilmu yang jernih dan memadai. oleh karenanya kita harus terus belajar dan belajar, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk mengajak orang lain pada kebaikan.

Jakarta, 18 Dzulhijah 1438 H/9 September 2017

 

 

Posted in Book Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Book Review : Unfinished Enemy of Ghazy

ghazi ke 6Bagaimana nasib Vlad Dracula setelah Perang Varna dan bagaimana arah perjuangan Sultan Mehmet setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel pada 1453 M?

Ya buku inilah jawabannya. Banyak yang mengira (termasuk saya) bahwa The Chronicle of Ghazi sudah berakhir pada buku ke lima karena di situ pula inti besar cerita yaitu penaklukan Konstantinopel dikisahkan. Namun ternyata, ada lanjutannya yakni buku The Unfinished Enemy of Ghazi ini. Kisah dalam buku ini dibuka dengan dialog yang sangat epic antara Vlad Dracula degan Magus, iblis yang disembah dan dipujanya untuk mendapatkan kekuatan sesat guna membalas dendam kesumatnya kepada pemerintahan Wallachia, Jenderal Besar Hungaria dan sekaligus kepada Turki Utsmani.

VD:” Berarti kedatangan orang bernama George itu kebetulan belaka?”

Magus: “Apakah ada sesuatu yg bernama kebetulan di dunia ini? Bahkan jatuhnya sehelai daun di hutan ini bukanlah kebetulan.”

….

“VD: “Aku merasa kekuatan yang kau berikan kepadaku belum cukup sempurna, Magus!”

Magus: “Apakah ada sesuatu di dunia ini yang sempurna, Vlad Dracula?. Carilah di belahan bumi manapun, Vlad Dracula, tiada sesuatu pun yang sempurna. Kesempurnaan itu cuma milik Tuhan”

VD: “Kau bicara tentang Tuhan,Magus? Kau masih mengakui adanya Tuhan?”

Magus: “(terkekeh) Dirimulah yang aneh Vlad Dracula, kau bodoh sekali jika tidak mengakui adanya Tuhan, padahal tanda2 Nya terhampar dimana-mana. Ketahuilah, kami memang durhaka dan tidak peduli pada perintah Tuhan, tetapi kami masih mengakui bahwa DIA ada.”

Dari cuplikan percakapan sangat epic antara Magus dan penyembahnya, Vlad Dracula tersebut kemudian kisah mengalir  pada perjuangan Sultan Mehmet Han dkk nya utk mewujudkan bisyarah selanjutnya yaitu penaklukan Roma.

Meski buku ini buku sejarah, namun kisahnya dirangkai dengan bahasa yang ringan, nyaman dibaca dan menghadirkan rasa penasaran karena keseruannya alurnya.

Jakarta, 18 Dhulhijjah 1438 H/8 September 2017

Posted in Book Review | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Book Review : Rahasia Magnet Rezeki

rhs magnet rezekiUntuk apa Tuhan menciptakan manusia? Kebanyakan dari kita akan menjawab untuk beribadah kepadaNya atau untuk mjd khalifah di muka bumi. Namun ternyata bukan itu jawabannya. Ternyata Alloh menciptakan manusia utk DIMULIAKAN DAN DIMANJA. Ha? Kok bisa? Iya saya juga tercenung dan kaget mengetahui jawaban tersebut dalam buku ini. Buku ini memang mind blowing banget, bacanya harus pelan-pelan sambil diresapi, direnungkan dan diamalkan pelan-pelan.

Jadi Alloh sebenarnya ingin kita hidup senang. Alloh tidak ingin lihat kita susah. Alloh tidak ingin lihat kita berat. Alloh tidak ingin kita sampai berletih-letih. Sebaliknya, Alloh ingin lihat manusia hidupnya senang dan bahagia. Lalu bagaimana agar kita bisa hidup senang dan dimanja Alloh? Jawabannya jangan berbuat dosa. Seperti Adam dan Hawa yang hidup di surga dengan sangat enak dan dimanja, semua tersedia, semua ada. Hanya satu larangan yang jangan dilakukan agar tetap bisa hidup senang dan dimanja di surga namun ternyata larangan tersebut dilanggar dan jadilah Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga.

Begitu pula hidup manusia di dunia ini, apabila ingin hidup senang dan dimanja Alloh jangan sampai berbuat dosa yag dilarangNya. Tidak berbuat dosa dengan cara  senantiasa berperilaku berpikir positif karena pikiran adalah doa. Yang kedua, berperasaan positif dan terakhir adalah senantiasa memiliki motivasi positif.

Semua yang ada di alam ini adalah energi termasuk diri kita. Energi baik melalui pikiran, perasaan dan motivasi positif yang kita miliki akan bertemu dengan energi baik yang lain. Energi yang tidak baik dalam diri kita akan menyebabkan energi baik di luar kita tidak akan mendekat. Rezeki adalah energi baik, maka untuk mendatangkan energi baik caranya sederhana yaitu ciptakan energi baik dalam diri, maka rezeki akan datang dengan sndirinya. Mengeluh, iri hati, sombong, adalah energi-energi tidak baik yang membuat rezeki tidak datang (rezeki tidak selalu berupa fisik materi) kepada kita.

Kerja keras dalam menciptakan energi baik dalam diri adalah jalan terbaik menciptakan rezeki. Bekerja keras dalam berpikir, berperasaan dan bermotivasasi positif adalah upaya-upaya yang secara tepat mengundang rezeki.

Bagus sekali  bukunya dan jadi nggk sabar untuk segera menyelesaikan 😊

Jakarta, 18 Juli 2017/24 Syawal 1438 H

 

 

Posted in Book Review, Photograph | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Berkunjung ke Negeri Laskar Pelangi

Alhamdulillaah wish list untuk mengunjungi Pulau Belitong yang cantik dan terkenal seantero Nusantara itu kesampaian juga.

#Hari 1

Kamis, 11 Mei 2017 bersamaan dengan tanggal merah Hari Raya Waisak, saya dan suami berangkat untuk meng-eksplor pulau yang terkenal lewat film Laskar Pelangi tersebut. Kami sengaja mengambil flight pagi pukul 05.55 dengan menaiki pesawat citi link dari bandara Soekarno Hatta ke bandara Tanjung Pandan. Sampai di Tanjung Pandan sekitar pukul 07.00, kami disambut oleh hujan deras. Karena kami memilih menggunakan travel agent untuk menyusun dan mengurusi perjalanan serta akomodasi kami, alhamdulillaah pas hujan ada yang menjemput kami di bandara Tanjung Pandan. Travel agent yang kami pilih adalah visitbelitung.

Driver kami masih muda dan ramah. Karena Belitong terkenal dengan warung kopi dan kebiasaan masyarakatnya meminum kopi, tempat pertama yang kami kunjungi adalah warung kopi Kong Djie yang konon katanya merupakan warung kopi paling mashyur dan paling tua di Belitong. Di sana selain meminum kopi, kami mencicipi gorengan yang tanpa cabe atau sambel pecel khas pasangan gorengan di Indonesia, nasi lemak ikan teri agak besar (sepertinya). Rasa kopi di sini enak dan konon dia mempertahankan cita rasa asli, sampai bangunan warungnya pun nampak masih asli dan sengaja tidak direnovasi.

IMG_0703Selepas mencicipi kopi Kong Djie, kami pergi ke Belitong Timur yang jaraknya ditempuh kurang lebih 1 s.d 2 jam dari Belitong Barat. Hari pertama kami habiskan menikmati tempat wisata di Belitong Timur. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Replika SD Laskar Pelangi yang berlokasi di Gentong, yang menjadi tempat shooting film Laskar Pelangi. Di sini kita bisa berfoto-foto, berbelanja dan menikmat segarnya udara Belitong Timur. Di dekat pintu masuk replika SD ini ada sebuah museum kecil yang berisi barang-barang antik dan background yang cukup eyecatching untuk berfoto.

IMG_0707Selesai dari area SD Laskar Pelangi, kami mengunjungi rumah keong yang berada persis di depan replika SD Laskar Pelangi. Rumah keong ini menurut guide kami dibangun untuk menikmati indahnya Gerhana Matahari Total yang terjadi tahun 2016 kemarin. Rumah keong ini menjadi salah satu spot terbaik di Indonesia untuk mengabadikan GMT tersebut.

IMG_0667Perjalanan berlanjut ke Museum Kata Andrea Hirata. Untuk masuk ke museum ini kita dikenakan HTM Rp 50.000,00 per orang yang dibayar sendiri karena exclude biaya travel agent. Namun HTM ini menurut saya sangat worth it ya, karena kita diberikan 1 buku karangan Om Andrea untuk masing-masing orang, terus juga banyak sekali quote yang sangat menginspirasi, banyak majalah dinding, kumpulan buku-buku karangan Om Andrea dan masih banyak lagi. Selain itu, dekorasinya cantik, warna-warni dan sangat instagramable..hehe. Konon museum kata Andrea Hirata ini menjadi museum literasi pertama di dunia.

IMG_0671Selesai dari Museum Kata Andrea Hirata, perjalanan kami berlanjut ke Kampung Ahok. Iya Ahok, Gubernur DKI Jakarta non aktif. Area wisata ini ternyata adalah rumah keluarga Pak Ahok dan sebuah rumah adat Belitong yang di depannya terdapat tulisan iconic  “Kampung Ahok”.

IMG_0874Setelah dari Kampung Ahok perjalanan kami berlanjut ke wisata kuliner di Rumah Makan Fega di daerah Manggar. Manggar ini terkenal dengan kota seribu warung kopi katanya, jadi di kanan kiri banyak warung-warung kopi yang dipenuhi oleh warga Manggar. Di rumah makan ini kami mencicipi kuliner khas Belitong yaitu Gangan Ikan. Gangan adalah sejenis cara memasak ikan yaitu dengan menggunakan kuah bumbu kuning, yang kira-kira terdiri dari cabe, kunyit, bawang dan lengkuas. Ikan yang biasanya dipakai untuk membuat gangan ikan adalah ikan ketarap, tenggiri dan kakap. Rasanya gurih dan segar, apalagi kami memakannya waktu hujan gerimis di Belitong jadi hangat-hangat yummy.

Destinasi kami berikutnya adalah Vihara Dewi Kuan In. Kesenangan utama berkunjung ke destinasi ini adalah mengambil sebanyak-banyak nya foto karena warna vihara yang didominasi warna merah sangat instagramable. Di bagian atas sedang dibangun patung raksasa Dewi Kuan In, tapi karena pengembangunannya belum selesai, belum banyak foto yang bisa diambil.

IMG_0722

Pantai Burung Mandi, Belitong

Selanjutnya kami mengunjungi Pantai Burung Mandi. Disebut Pantai burung mandi karena katanya dahulu di pantai ini banyak burung yang sedang mandi. Di tepi pantai ini banyak sekali perahu cantik warna-warni yang menjadi ciri khas pantai ini dalam menarik perhatian pengunjung. Selain dapat menikmati suana pantai di sore hari yang sangat nyaman, pengunjung dapat berfoto-foto dengan background perahu berwarna-warni yang sangat cantik. Pantai burung mandi adalah destinasi terakhir kami di hari pertama di Belitong.

IMG_0877Setelah itu kami kembali ke Belitong Barat untuk check in hotel di Hotel Belitong. Sebelum beristirahat malam pertama kami di Belitong, kami manfaatkan untuk mencicipi kuliner khas Belitong lainnya yaitu Mie Belitong, mie kuning yang dibalut kuah kental dengan banyak topping yang terdiri dari ketimun, kentang rebus, emping dan bawang goreng. Kuahnya yang kental mirip dengan kuah Mie Ongklong Dieng, namun mie Belitong ini kuahnya agak manis, jadi bagi yang tidak terlalu suka manis harus ditambahkan sambal atau irisan cabe. Kemudian yang khas lagi dari makanan ini adalah dialasin daun simpor yakni daun khas Belitong yang dipakai untuk membungkus nasi dan makanan lainnya. Kekhasan daun simpor ini di Belitong seperti kekhasan daun jati di Pulau Jawa. Dahulu waktu saya kecil, orang kalau ke kondangan bentuk angpao nya adalah sembako. Sebagai  timbal balik, yang bawa sembako dibawakan nasi anget dan lauk pauk yang dibungkus daun jati.

IMG_0730

Es Jeruk Kunci

Selain mie Belitong, kami juga mencicipi es jeruk kunci yakni seperti jeruk di Jakarta tetapi jeruknya lebih asam dan lebih segar. Untuk membuat es jeruk ini diperlukan 2 s.d 3 buah jeruk kunci yang diperas kemudian ditambahkan es batu dan gula sesuai selera.

Setelah puas mencicipi makanan-makanan khas Belitong tersebut, kami kembali ke hotel. Suasana hotel yang nyaman dan homey, ditambah hari pertama yang cukup seru dan membuat istirahat kami di hari pertama sangat pulas.

 

 

#Hari 2

Hari kedua di Belitong kami awali dengan sarapan pagi di hotel dengan nyaman dan menu rumahan. Kemudian kami dijemput oleh guide kami sekitar pukul 08.00 pagi untuk berkeliling ke pulau-pulau cantik di Belitong barat. Sebelum ke pulau, kami membeli dulu bekal makan siang untuk di pulau, karena menurut guide kami, membeli makanan di pulau akan sangat mahal. Untuk menu saya, saya memilih salah satu makanan khas Belitung yaitu ketam yang merupakan kepiting yang telah dihaluskan dan dibumbui, kemudian dibalut dengan cangkang kepiting. Selain itu saya juga memilih pepes ikan, sayuran dan kerupuk. Semuanya enak.

IMG_0736

Pantai Kepayang

Tanpa berlama-lama kami segera berangkat ke pantai Kepayang untuk kemudian naik perahu berkeliling pulau. Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Pasir. Disebut pulau Pasir karena pulau ini hanya terdiri dari daratan pasir yang tidak terlalu luas yang tenggelam saat air laut pasang. Namun meskipun tidak terlalu luas, pemandangan di sini sangat indah dan kita bisa menjumpai bintang laut yang cantik di sini.

IMG_0764

Bintang Laut di Pulau Pasir

Puas berfoto-foto di Pulau Pasir, perjalanan kami berlanjut ke Pulau Lengkuas untuk naik ke mercusuar dan menikmati pemandangan kota Belitong dari atas serta snorkling di Pulau Lengkuas yang terkenal dengan spot snorklingnya. Sayangnya saat kami ke sana, mercusuar sedang ditutup karena ada masalah pungli, ada juga yang bilang karena sedang direnovasi. Akhirnya kami hanya berfoto-foto dan menikmati angin pantai yang nyaman dan menenangkan dilanjut snorkling dengan pemandangan yang sangat indah.

IMG_0811Selepas snorkling, rasa lapar mendera, akhirnya kami menepi di Pantai Tanjung Kelayang. Pantai ini terkenal dengan batunya yang mirip dengan kepala sebuah burung. Burung ini adalah burung yang sering terbang di pantai-pantai Belitong dan disebut burung kelayang yang mungkin kalau di kita disebut burung camar. Oleh karena itu, pantai ini disebut pantai

IMG_0807tanjung kelayang yang artinya kepala burung kelayang.

IMG_0872Perjalanan berlanjut ke pantai batu berlayar. Disebut pantai batu berlayar karena batu-batu di pantai ini lebar-lebar seperti layar kapal. Di sini kita bisa berfoto-foto atau berendam di air pantainya yang jernih dan hangat. Capek seharian bermain air dan keliling pulau-pulau, kami kembali ke pantai Kepayang untuk bersih-bersih dan siap-siap kembali ke hotel.

IMG_0809

Sunset di Pantai Tanjung Pendam

Di perjalanan kembali ke hotel, kami menyempatkan diri menikmati sunset di Pantai Tanjung Pendam. Sunset di pantai ini termasuk spot sunset terbaik di Pulau Belitong.

Malamnya kami berwisata kuliner di Belitong Timpo Duluk. Belitong Timpo Duluk adalah tempat makan dengan dekorasi dan interior khas Pulau Belitong serta makanan yang dijual adalah makanan-makanan khas Belitong. Diantara makanan IMG_0881khas yang kami cicipi di tempat makan ini adalah Berego. Berego adalah seperti lontong, namun terbuat dari tepung beras dan sagu. Warnanya putih bersih, makannya pakai kuah ikan dan sambal pedas. Teksturnya kenyal seperti kwetiau tapi lebih tebal dan lebar. Makanan ini juga beralaskan daun simpor yaitu daun yang banyak tumbuh di negeri Laskar Pelangi ini.

#Hari 3

Hari ketiga dalah hari terakhir kami di Belitong. Kami check out dari hotel sekalian membawa koper dan barang bawaaan karena selesai jalan-jalan langsung menuju bandara.

Hari ketiga ini kami mengunjungi Pantai Tanjung Tinggi yang terkenal sangat indah dan mempesona. Pantai ini adalah lokasi utama shooting film Laskar Pelangi. Batu-batuan indah menghiasi pinggir pantai dan membuat betah untuk berfoto-foto dan menikmati angin pantai di sini. Indah banget pokoknya..

IMG_0851Puas berfoto-foto, naik ayunan dan menikmati angin pantai di Pantai Tanjung Tinggi, kami mengunjungi Danau Kaolin. Danau ini terbentuk akibat tambang kaolin yang membentuk cekungan kemudian terisi oleh air hujan sehingga membentuk danau berwarna tosca yang sangat cantik.

Dari Danau Kaolin, kami hendak mengunjungi Rumah Adat Belitong tapi sayangnya sudah tutup karena sudah siang. Saat itu hari Sabtu siang hari, kalau hari Sabtu ternyata tempat wisata ini hanya buka setengah hari saja. Meskipun kami gagal mengunjungi rumah Adat Belitong ini, tapi kami sangat senang dan bahagia karena banyak tempat yang telah kami kunjungi dan kami nikmati keindahannya.

Untuk teman-teman yang ingin berlibur ke Belitong bisa menggunakan jasa travel agent seperti saya atau menyusun rencana perjalanan sendiri karena menurut saya destinasi di Pulau Laskar Pelangi ini jaraknya cukup dekat sehingga relatif memudahkan. Tetapi kalau saya pribadi prefer menggunakan travel agent yang semuanya sudah diurusin dan kitanya tinggal duduk manis, menikmati liburan..hehe.

Semoga bermanfaat 🙂

Jakarta, 17 Juli 2017/23 Syawal 1438 H.

Posted in Photograph, Travelling | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Book Review : Sunnah Sedirham Surga

image1– Judul: Sunnah Sedirham Surga

– Penulis : Ust. Salim A.Fillah

– Review :

“Hikayat keteladanan para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai daripada kebanyakan persoalan fiqih, karena kisah-kisah tersebut berisi adab dan akhlaq mereka untuk diteladani” -Imam Abu Hanifah-

Imam Syafi’I berkata:

Aku mencintai orang-orang sholeh meskipun aku bukan termasuk di antara mereka. Semoga  bersama mereka aku bisa mendapatkan syafa’at kelak. Aku membenci para pelaku maksiat meskipun aku tak berbeda dengan mereka. Aku membenci orang yang membuang-buang usianya dalam kesia-siaan walaupun aku sendiri adalah orang yang banyak menyia-nyiakan usia.

Betapa banyak kisah-kisah para ulama akan adab dan akhlaq, sebab dengan ilmunya mereka telah menjadi insan-insan yang paling takut kepada Alloh. Mereka telah menjadikan ilmu sebagai tepungnya, hingga tersaji roti yang lembut, lezat dan indah untuk menjadi asupan ummat sepanjang zaman. Mereka telah mempermaklumkan bahwa hampir-hampir adab adalah sepertiga agama. Kisah-kisah keteladanan ini sungguh sangat harus kita hidupkan kembali di tengah-tengah zaman dimana kita semakin terbiasa menjadi penyimak siaran pengetahuan dari benda-benda mati beraliran listrik dan berpenangkap sinyal, tanpa berkesempatan merasakan pergaulan dan khidmah ta’zhim secara langsung kepada para ulama. Maka hasil mengaji kita adalah pen-tahbis-an sudut pandang yang kita peroleh sebagai tolok ukur kebenaran, sehingga jika ada yang masih serupa namun tak sama pun kita hukumi berbeda lagi menyimpang.

Adab dan akhlaq inilah yang membuat KH.Idham Cholid tidak berqunut ketika tahu ada Buya Hamka menjadi makmumnya dalam kapal yang mengangkut mereka berhaji, sementara Buya Hamka justru berqunut karena tahu KH.Idham Cholid menjadi makmumnya. Adab dan akhlaq pula yang membuat Mahaguru dan penasihat tulus pada abad ke 3 H, Hatim Al-Asham yanag berpura-pura “tuli” karena ada seorang wanita paruh baya yang datang ke majelisnya kemudian wanita tersebut tanpa sengaja membuang angin dengan suara keras. Beliau berpura-pura tuli agar wanita tersebut tidak malu dan kepura-puraan ini beliau pertahankan selama 15 tahun sampai wanita tersebut wafat. Hal ini beliau lakukan untuk menjaga aib dan kehormatan wanita tersebut. Dan masih banyak lagi kisah-kisah para ulama salaf, ulama klasik dan ulama nusantara yang mencerminkan keagungan adab dan akhlaq mereka serta kecintaan dan pemuliaan yang amat sangat terhadap ilmu.

Maka sangat patut bagi kita untuk merenungkan petuah Imam Syafi’i bahwa apabila kita tidak bisa menyamai mereka, setidaknya kita mencintai mereka, agar kecintaan tersebut menuntut kita untuk mendapatkan syafa’at, sebagiamana petuah beliau:

Betapa jauh, sangat jauhnya adab dan akhlaq kita dari para salafus sholeh dan para ulama tersebut, padahal ilmu kita pun mungkin tak ada seujung kuku dari mereka. Buku ini sangat recommended menurut saya, bagus banget. Semua kisahnya syarat hikmah dan membuat kita menunduk dan mengatakan “bagaimana dengan saya?”. Ia bagaikan seteguk air dingin di tengah terik matahari yang melelahkan dan menghauskan. Dibaca berulang-ulang pun tidak akan membosankan.

Posted in Book Review | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Berhaji Bersama Rosululloh SAW

Alhamdulillaah bulan Mei dan Juni kemarin memberikan pengalaman dan keseruan yang luar biasa. Mulai dari jalan-jalan ke Belitong, dinas ke Makassar untuk pertama kali nya, dinas pas bulan puasa ke Surabaya dan yang paling membahagiakan adalah alhamdulillaah bisa umroh. Pengen cerita untuk yang ke Belitong dan umrohnya, tapi sepertinya lebih enak dimulai dari umroh ya karena baru pulang dan masih hangat kesannya di hati 🙂

Sungguh saya sangat bersyukur bisa melaksanakan umroh di tahun ini lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan kemarin..terima kasih banyak Ya Alloh. Awal mulanya adalah suami yang mendapatkan jatah umroh dari tempat kerja nya, kemudian saya diajak. Awalnya saya ragu-ragu karena waktu baca-baca review orang yang umroh di bulan Ramadhan katanya ruame dan puenuh banget melebihi bulan haji, sehingga saya yang belum pernah umroh sebelumnya merasa takut dan khawatir. Namun, saya mendapatkan banyak nasihat dari orang-orang yang sudah berpengalaman umroh Ramadhan juga serta menguatkan doa semoga Alloh membimbing dan menjaga saya selama di tanah suci Nya. Alhamdulillaah Alloh kabulkan doa saya karena selama di sana, semua lancar dan tidak terjadi hal-hal yang saya khawatirkan sebelumnya.

Kami berangkat umroh tanggal 11 Juni 2017 atau bertepatan dengan 16 Ramadhan 1438 H. Waktu berangkat ini yang menjadi pengalaman pertama sepanjang sejarah saya hidup karena harus berpuasa 18 jam di pesawat. Flight kami jam 16.00 sore, pada saat jam 18.00 yang seharusnya sudah berbuka puasa kalau di Indonesia, kami baru sampai daerah sebelah barat Palembang atau mendekati Maladewa yang mana jam segitu masih siang..haha. Jadilah buka puasanya mengikuti buka puasa daerah setempat yaitu sekitar Yaman pukul 22.00 waktu Indonesia. Alhamdulillaah unforgetable experience..haha

#Hari 1

image1

Masjid Nabawi, 12 Juni 2017/17 Ramadhan 1438 H

Kami sampai di Bandara King Abdul Azis, Jeddah sekitar pukul 21.00 waktu Arab. Oiya, Arab dan Indonesia selisih waktunya 4 jam duluan Indonesia. Jadi kalau wakru Indonesia kami sampai jam 01.00 dini hari karena perjalanan 9 jam dari jam 4 sore. Begitu sampai bandara KAA, setelah melewati imigrasi, mengurus koper dll kami naik bus untuk menuju ke Madinah pada pukul 23.00. Berhenti di jalan untuk makan sahur dan sholat subuh kemudian lanjut perjalanan ke Madinah sekitar 6 jam perjalanan dan sampai Madinah sekitar pukul 07.00 pagi. Setelah pembagian kamar, mandi, dll langsung lah saya dan ibu-ibu sekamar ke masjid Nabawi, berburu masuk Rawdah dan berdiam di sana sampai sholat Tarawih selesai. Oiya sebelum berangkat , ibunya teman saya sempat memberikan tips agar ketika di tanah suci saya mendekat ke orang Indonesia yang rajin beribadah, jangan yang suka ngobrol dan belanja. Alhamdulillaah dari sejak berangkat saya dipertemukan dengan seorang ibu separuh baya yang sangat rajin dan lincah beribadahnya meskipun beliau terhitung cukup sering ke tanah suci namun ibadahnya sangat bersemangat. Alhamdulillaah :).

Pengalaman pertama buka puasa di masjid Nabawi sangat berkesan. Banyak orang yang membagi-bagikan makanan untuk berbuka di dalam masjid mulai dari yoghurt segar yang dimakan dengan roti gandum, berbagai jenis kurma, kopi Arab, dll. Kalau kita berbuka di pelataran masjid kita akan mendapati juga nasi, jus, dan makanan yang variatif lagi. Kalau di dalam masjid nasi tidak boleh masuk sehingga hanya boleh dibagikan dimakan di luar masjid.

#Hari 2

image nabawi indah

Masjid Nabawi, Selasa 13 Juni 2017/18 Ramadhan 1438 H

Hari kedua di tanah suci atau hari Selasa, 13 Juni 2017/18 Ramadhan 1438 H kegiatan kami di Madinah sama dengan hari pertama, menghabiskan waktu masing-masing. Mau di masjid atau jalan-jalan belanja masing-masing. Alhamdulillaah di hari kedua kami di Madinah, ada event Al Qur’an exhibition di dekat Gate No 6 Masjid Nabawi. Oiya di Masjid Nabawai ada sekitar 25 pintu masuk/gate karena saking gede nya masjid suci ini. Di Al Qur’an exhibition ditampilkan Al Qur’an pertama yang disusun pada zaman Khalifah Utsmani, Al Qur’an paling berat yang ditulis tangan oleh seorang Muslim Afghanistan, Al Qur’an yang ditulis dengan tinta berasal dari emas murni dll tentang keistimewaan Al Qur’an.

 

image4

Pembagian Makanan Berbuka di Masjid Nabawi, Rabu 14 Juni 2017/19 Ramadhan 1438 H

Sehabis dari Al Qur’an exhibition kami kembali ke masjid untuk ikutan buka di masjid Nabawi dan sholat maghrib. Hari kedua ini kami mencoba berbuka di luar masjid dan MasyaAlloh makanan berbuka melimpah dan segar: jeruk sunkiss, pisang, nasi campur, nasi briyani, kurma basah, jus kotak, air mineral dll. Sungguh ini yang bikin kangen banget dengan Madinah.

 

#Hari 3

Di hari ketiga atau Hari Rabu 14 Juni 2017/19 Ramadhan 1438 H pagi, kami melakukan city tour Madinah. Beberapa tempat yang kami kunjungi adalah masjid yang pertama dibangun Rosululloh SAW di Madinah yaitu Masjid Quba, kebun Kurma, dan bukit Uhud. Di Masjid Quba, kami diarahkan untuk melakukan sholat 2 rakaat karena  pahalanya yang besar sesuai dengan hadist Nabi:

image6

Masjid Quba, Rabu 14 Juni 2017/ 19 Ramadhan 1438 H

Barang siapa telah bersuci (berwudlu) di rumaahnya. kemudian mendatangi masjid Quba, lalu shalat di dalamnya dua rakaat, baginya sama dengan pahala umrah.” (Sunan Ibn Majah no. 1412).

image3

Buah Kurma Muda yang Masih di Pohon, Kebun Kurma Madinah 2017

Kemudian, kami ke Kebun Kurma. Di kebun kurma ini kita bisa melihat-lihat pohon kurma dan kalau sudah ada yang masak, kita bisa mencobanya langsung dari pohon. Selain itu, di sana juga dijual bermacam-macam jenis kurma, coklat, coklat kurma, kacang-kacangan Arab, minyak zaitun dan banyak lainnya. Namun harganya relatif mahal menurut saya, jadi saya tidak membelinya. Terakhir, kami mengunjungi bukit Uhud. Di bukit ini saya membayangkan bagaiaman perang Uhud terjadi di tengah panas terik yang sangat, subhanalloh..Allohumma Sholli ‘ala Muhammad.

Selepas dari city tour kami kembali ke hotel untuk berkemas-kemas karena malamnya kami akan melakukan perjalanan ke Mekkah yang memakan waktu sekitar 6 jam. Pada sore hari nya ada free jalan-jalan ke Pasar Kurma yang ada di dekat Gate 6 Masjid Nabawi. Di pasar ini semua yang dijual murah-murah banget. Kurma muda satu kg hanya SR 10 atau 40rb, coklat satu kg hanya SR 15 duh benar-benar menggoda kan. Tapi saya tidak pergi ke pasar itu karena sudah merasa kelelahan habis city tour. Alhamdulillaah nya suami saya pergi ke sana sembari mengantar jama’ah, jadi saya titip ke suami saya.

image7

Masjid Bir Ali, Rabu 14 Juni 2017/19 Ramadhan 1438 H

Sekitar pukul 00.00 Waktu Madinah kami berangkat ke Mekkah dengan sudah memakai pakai Ihrom. Kemudian kami berniat ihrom/miqat di Masjid Bir Ali yang berjarak sekitar 11 km dari Madinah, makan sahur dan sholat subuh di sebuah rest area, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Sampai di hotel Mekkah sekitar pukul 08.00 pagi,kami langsung menurunkan koper dari bis kemudian siap-siap untuk umroh. Hotel kami agak jauh dari Masjidil Haram sehingga harus naik shuttle bus dengan tarif 4 SR, namun kami sudah mendapatkan jatah tiket bus untuk bolak balik masjid dan hotel.

Dan inilah cerita semasa kami di Mekkah

#Hari 1

image2

Ka’bah, 15 Juni 2017/ 20 Ramadhan 1438 H

Begitu sampai di Mekkah kami langsung melaksanakan ibadah umroh mulai dari thawaf, sa’i dan diakhiri dengan tahalul. Siang itu cukup terik dan bagi saya yang baru pertama kali umroh waktu puasa cukup berat di sa’i tapi alhamdulilllaah terlalui dan semoga mendapatkan pahala berhaji bersama Rosululloh SAW (aamiin) sebagaimana Sabda beliau SAW :

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari no. 1863).

Selesai umroh pas balik ke hotel ternyata semua pada tepar haha. Jadi kami istirahat dulu sebentar sebelum kembali lagi ke masjid untuk memulai i’tikaf. Oiya karena hotel kami agak jauh, kami memilih untuk tidak sering-sering balik ke hotel jadi kami membawa baju untuk ganti besoknya. Hal ini didukung oleh nyamannya kamar mandi Masjidil Haram untuk mandi dan bersih-bersih sehingga mandi pun jadi nyaman. Paling yang agak susah adalah masuk masjid nya yang harus membawa tas besar karena berisi baju ganti, alat mandi dan dll. Penjaga pintu-pintu masjid atau yang biasa disebut askar suka galak dan nggk ngizinin yang bawa tas besar masuk masjid, tapi di lain kesempatan kita diizinkan masuk. Jadi kita menyimpulkan bahwa semuanya tergantung mood askarnya kayaknya..haha.

Saat buka puasa di Masjidil Haram tidak terlalu beda dengan saat buka puasa di Masjid Nabawi. Banyak makanan dan minuman yang dibagikan ke jama’ah di masjid dan suasana kebersamaannya membuat hati basah karena haru.

#Hari 2

Hari kedua sampai hari ke 10 di Mekkah kami lalui dengan i’tikaf di masjid dan balik ke hotel 2 hari sekali. Untuk kegiatan di Masjidil Haram sendiri pada bulan Ramadhan khususnya malam hari adalah buka puasa/adzan Maghrib pukul 19.00. Sholat isya’ pada pukul 21.00 dilanjutkan dengan Qiyamul Lail sesi 1 sampai pukul 23.00 atau 23.30, kemudian break. Pada saat break ini, kita bisa istirahat, membaca Al Qur’an, thawaf, membaca buku, berdzikir, dan kegiatan positif lainnya. Pada pukul 00.30 lewat sedikit ada lagi qiyamul lail sesi 2 sampai sekitar pukul 02.30. Pukul 02.30 s.d adzan subuh/ sekitar pukul 04.00 kita bisa makan sahur, thawaf, bersih-bersih atau kegiatan lainnya.

Nah karena padatnya kegiatan ibadah waktu malam, biasanya kami tidur/istirahatnya itu pagi setelah sholat subuh atau setelah sholat dhuha sebelum mandi. Begitu seterusnya. Yang perlu diperhatikan adalah karena banyaknya orang yang ingin beribadah di Masjidil Haram pada saat Ramadhan, maka 1 jam sebelum sholat fardu pintu-pintu masjid yang mengarah ke Lt. Ground Floor, lantai 1, dan lantai 2 kebanyakan sudah ditutup. Pintu yang masih dibuka adalah yang mengarah ke lantai paling atas. Bahkan pada saat malam 27 Ramadhan kemarin, pintu yang mengarah ke lantai-lantai tersebut ditutup 2 jam sebelumnya. Jadi kita harus siap-siap untuk nge tag tempat jauh-jauh jam sebelum waktu sholat Fardu datang.

image8

Jenis Makanan Berbuka saat di Masjidil Haram

Selain itu yang harus diperhatikan lagi adalah kondisi kesehatan kita. Kita yang hidup di daerah tropis seperti Indonesia terbiasa dengan udara yang sejuk dan nyaman, ketika musim kemarau pun udara juga tidak begitu panas. Nah waktu di Arab ini, udara nya benar-benar sangat panas dan menjadi ujian tersendiri saat kita berpuasa. Pukul 10.00 WIB saja di sana sudah 42’C. Bisa dibayangkan kan? Oleh karenanya kita harus siap-siap obat-obatan sejak dari tanah air minimal minyak kayu putih, obat batuk, madu, dll sesuai kebutuhan masing-masing. Untuk makanan sendiri di sana alhamdulillaah banyak sekali jenis buah-buahan enak dan menyegarkan yang bisa kita konsumsi saat buka puasa atau sahur. Minuman kemasan pun juga sangat enak dan menyegarkan, jus buah kemasan di sana tu benar-benar beda dari yang ada di tanah air dan enak banget. Hal ini lah yang membuat saya rindu Mekkah dan Madinah selain dari aura spiritualnya. Sebagai tips, untuk mengurangi dehidrasi, kita disarankan untuk mengkonsumsi ketimun hijau saat buka puasa dan sahur. Saya baru mengetahuinya setelah beberapa hari di Mekkah dan alhamdulillaah hal tersebut terbukti. Dehidrasi agak berkurang setelah mengkonsumsi ketimun hijau tersebut.

 

#Hari 10

Hari ke 8 kami di Mekkah bersamaan dengan malam takbiran. Rasanya sedih campur haru, sedih karena malam itu sudah tidak ada lagi qiyamul lail dengan suara imamnya yang merdu, tidak ada lagi buka puasa bersama dengan roti Arab, keju Almarai, kurma,kohwa, dll. Haru karena bisa merasakan Eidul Fitri di Masjidil Haram bersama dengan umat Islam seluruh dunia meskipun tidak ada takbiran seperti di Indonesia. Namun..surprise!! setelah subuh sampai menjelang sholat Eid yang dilaksanakan pukul 06.30 berkumandang takbir seantora masjid, bikin merinding Ya Alloh T__T. Dan ini juga yang membuat pengen balik lagi ke sana Ramadhan-Ramadhan berikutnya.

Di rombongan kami kemarin ada seorang bapak yang meninggal di Mekkah di malam takbiran (setelah beliau menyelesaikan full i’tikafnya di masjidil Haram). Menurut cerita istri beliau, beliau semenjak berangkat dr tanah air memang sudah berdoa agar diwafatkan di tanah suci dan masyaAlloh, Alloh kabulkan doa beliau setelah beliau selesei full i’tikaf (tidk meninggalkan masjidil Haram sama sekali di 10 hari terakhir). Beliau ibadahnya benar-benar totalitas selama di Haramain, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia, setiap pagi selama 10 hari terakhir Ramadhan beliau menjemput istrinya untuk thawaf sunnah bersama. Alhamdulillaah doa beliau terkabul dan disholatkan oleh ratusan ribu atau bahkan jutaan orang di rumah Alloh.

Tidaklah seorang lelaki muslim yang meninggal dunia, kemudian disholatkan jenazahnya oleh 40 laki-laki yang tidak menyekutukan Alloh dengan suatu apapun, kecuali Alloh akan memberikan syafaat mereka kepadanya.” (HR. Muslim).

Proses pengurusan dan pemakaman jenazah juga lancar menurut panitia. Alhamdulillaah, semoga beliau husnul khotimah dan bahagia di sisi Nya. Semoga kami bisa husnul khotimah juga seperti beliau..aamiin T_T.

Barangsiapa yang mati di salah satu dari dua tanah haram (Makkah atau Madinah), maka Alloh akan membangkitkannya sebagai orang-orang yang mendapatkan keamanan di hari kiamat.” (HR. Abu Dawud).

#Hari 11

Pada hari ke 9 setelah sholat Eid kami bersalam-salaman dengan jama’ah yang lain yang kami temui selama i’tikaf di Masjid. Kami memang tidak mengetahui bahasa satu sama lain, namun kehangatan pelukan dan saling memaafkan telah menghilangkan perbedaan bahasa diantara kami.

Begitu salam-salaman telah selesai kami kembali ke hotel dan di hotel disediakan opor, gulai dan makanan-makanan khas lebaran Indonesia lainnya. Sungguh lah ini juga salah satu momen dari banyak nya momen membahagaikan selama di Mekkah dan Madinah.

Setelah makan-makan kami mencuci pakaian. Oiya di hotel kami disediakan banyak mesin cuci dan tempat menjemur yang cukup luas di lantai paling atas, jadi buat ibu-ibu yang tidak mau membawa pulang pakaian kotor, bisa mencuci sampai puas di sini. Selebihnya kami bisa memanfaatkan waktu dengan bersitirahat atau kegiatan lainnya sesuai kebutuhan jama’ah umroh i’tikaf.

Malamnya saya bersama ibu-ibu ditemani oleh 2 orang panitia laki-laki jalan-jalan menyusuri Mekkah sekalian melihat-lihat Bin Dawood, mall terkenal di Mekkah dan Madinah yang ternyata harganya cukup mahal. Tapi lumayan lah jadi buat sightseeing. Ada pusat berbelanja yang lebih murah yaitu Al Abraj yang ada di lantai 4 Grand Zam-Zam yang terletak persis di depan King Abdul Azis Gate, Masjidil Haram. Saya ke sini di hari ke 12 siang.

#Hari 12

Pada hari ke 12 ini kami city tour keliling Mekkah. Diantara tempat-tempat yang kami kunjungi adalah Jabal tsur, Jabal Rahmah, Arafah dan Minna. Di Jabal tsur kita hanya berfoto-foto sambil mendengarkan penjelasan muthowif, padahal sebenarnya saya pengen naik ke bukitnya, tapi tidak ada yang naik pada saat itu L

image5

Jabal Tsur, Senin 26 Juni 2017/2 Syawal 1438 H

Kemudian kami ke Jabal Rahmah yang konon adalah tempat bertemunya Nabi Adam dan Hawwa. Hal ini jadi diartikan oleh orang-orang bahwa Jabal Rahmah adalah tempat mustajab untuk berdoa agar dapat jodoh. Padahal menurut muthowif kami, ada riwayat yang menyebutkan bahwa di Kornes, Jeddah ada makam Siti Hawwa yang makam itu sendiri panjangnya lebih panjang daripada puncak Jabal Rahmah, jadi agak mustahil kalau Nabi Adam dan Hawaa bertemu di puncak Jabal Rahmah. Jadi hal ini masih dipertanyakan. Sayangnya, sudah banyak orang yang telanjur percaya dan parahnya banyak yang menuliskan nama-nama mereka di batu-batu di Jabal Rahmah, ada yang meninggalkan foto dan KTP agar ditemukan oleh jodohnya dan khurafat-khurafat lainnya. Yang lebih menyedihkan lagi, di puncak Jabal Rahmah ada tugu yang menurut orang-orang katanya Rosululloh SAW pernah naik dan berdoa di situ, jadilah banyak orang berdoa dan meratap di tugu itu. Padahal menurut muthowif tidak ada satu hadist pun yang menunjukkan bahwa Rosululloh SAW pernah naik ke Jabal Rahmah apalagi berdoa di sana. Yang ada Rosululloh pernah membelakangi Jabal Rahmah dan berdoa menghadap Ka’bah. Selain itu di tugu tersebut juga terpampang spanduk besar yang mengatakan bahwa berdoa dan meratap di tugu adalah pilgrimage mistakes/ kesalahan-kesalahan jama’ah ditulis dalam berbagai bahasa agar orang-orang paham. Tapi tetap saja, sungguh menyedihkan percaya khurafat-khurafat begitu T_T. Tugu yang di puncak Jabal Rahmah itu juga sampai berwarna hitam separuh karena tulisan nama-nama para pengunjung yang berharap jodoh. Kan jadi merusak linkungan juga ya L

floating mosque

Floating Mosque

Oke, sudah ah bete-bete nya. hiks..Sepulang city tour Madinah kami kembali ke masjidil Haram untuk menikmati hari-hari terakhir di sini. Di sela-sela waktu sholat untuk pertama kalinya saya masuk ke Grand Zam-Zam yang megah itu..hehe. Di sana kami makan, lihat-lihat dan beli oleh-oleh karena barang-barang di sini relatif jauh lebih murah daripada Bin Dawood.

#Hari 13

H-1 kepulangan ke tanah air. Di hari ke 13 ini semua sudah mulai beres-beres dan packing-packing untuk pulang ke tanah air selain juga pada berdiam di Masjidil Haram menikmati waktu-waktu terakhir di masjid suci ini.

#Hari 14

Hari ke 14 di Mekkah pukul 08.00 pagi kami sudah mulai menurunkan koper-koper untuk dimasukkan ke bus yang akan membawa kami ke Jeddah menuju bandara King Abdul Azis. Sedih ya rasanya harus berpisah dengan Mekkah Al Mukaromah, masih betah di sana, berdiam di masjidnya, menikmati kuliner di sana dan menikmati suasananya. Tetapi bagaimana lagi, ibadah di Mekkah dan Madinah adalah penggemblengan diri agar terus berusaha konsisten dalam ibadah meskipun jauh dari tanah suci, konsisten dalam menjauhi perkataan-perkataan negatif, konsisten dalam mengendalikan hawa nafsu, untuk kemudian menjalani kehidupan kita yang telah digariskanNya.

Di Jeddah, kami mampir ke masjid apung yang ada di Laut Merah untuk melaksanakan sholat zuhur. Dari masjid apung kami lanjut ke Balad, pasar/mall pusat oleh-oleh di Jeddah. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju bandara King Abdul Azis. Oiya untuk perjalanan pulang dari Jeddah ke Jakarta soal bawaan tidak terlalu ketat seperti dari Jakarta ke Jeddah. Minuman botol boleh kita masukkan ke dalam tas ransel untuk dibawa ke cabin dalam batas tertentu, cuma sekali kena scan, tidak seperti di bandara Soetta yang di-scan berkali-kali.

Alhamdulillaah ini cerita perjalanan umroh kemarin, semoga bermanfaat untuk pembaca yang akan melakukan umroh Ramadhan ya :). Semoga kita semua bisa ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh..aamiin 🙂

 

Jakarta, 10 Juli 2017/ 16 Syawal 1438 H.

Posted in Learning Outside | Tagged , , , , , , , , | 1 Comment